<rss version="2.0" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:trackback="http://madskills.com/public/xml/rss/module/trackback/">
    <channel>
        <title>BBTNBBS</title> 
        <link>https://programs.wcs.org/btnbbs</link> 
        <description>RSS feeds for BBTNBBS</description> 
        <ttl>60</ttl> <item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/14927/Peringatan-Puncak-Hari-Konservasi-Alam-Nasional-2020-Akan-Diselenggarakan-di-Bontang-Mangrove-Park-Taman-Nasional-Kutai.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=14927</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=14927&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>Peringatan Puncak Hari Konservasi Alam Nasional 2020 Akan Diselenggarakan di Bontang Mangrove Park, Taman Nasional Kutai</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/14927/Peringatan-Puncak-Hari-Konservasi-Alam-Nasional-2020-Akan-Diselenggarakan-di-Bontang-Mangrove-Park-Taman-Nasional-Kutai.aspx</link> 
    <description>Menjelang hitungan hari, peringatan puncak Hari Konservasi Alam Nasional akan digelar, tepatnya pada tanggal 15 &amp;ndash; 16 September 2020. Peringatan yang akan di hadiri oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan ini dan dari Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan dihadiri oleh plt Kepala Balai Besar TNBBS, Kepala Seksi Pemanfaatan dan Pelayanan dan staf, Subbag Data Evaluasi dan Kehumasan, serta pemenang penghargaan Anugerah Konservasi Alam HKAN 2020 dari Kelompok Pemanfaat Air Sepunti Balak TNBBS, akan diselenggarakan di Bontang Mangrove Park, Taman Nasional Kutai, Bontang, Kalimantan Timur. Berbagai kegiatan telah mewarnai peringatan Hari Konservasi Alam Nasional 2020 seperti yang diikuti oleh Balai Besar TNBBS: 1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Lomba Foto dan Video Virtual Petualangan Alam IndonesiaVirtual dan Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan berperan sebagai peserta lomba.  2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Webinar Virtual Tour Taman Nasional Bukit Barisan Selatan 3.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Lomba Global Tiger Day 2020 dalam rangka memperingati hari Harimau Sedunia 4.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Peringatan Hari Konservasi Alam Nasional tanggal 17 Agustus 2020 yang diselenggarakan melalui aksi bersih kawasan konservasi di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan Berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 tentang Hari Konservasi Alam Nasional, Hari Konservasi Alam Nasional ditetapkan pada tanggal 10 Agustus. Peringatan ini diselenggarakan setiap tahun untuk mengingatkan masyarakat umum bahwa konservasi alam merupakan bagian integral dari pembangunan yang berkelanjutan yang harus terus dilaksanakan dan dipertahankan dalam setiap kegiatan dalam upaya perlindungan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya sebagai sistem penyangga kehidupan. Peringatan HKAN yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan ini bertujuan untuk mengkampanyekan pentingnya konservasi alam bagi kesejahteraan masyarakat. Selain itu juga untuk mengedukasi dan mengajak masyarakat agar berperan aktif dalam menyelamatkan alam.  Tema peringatan HKAN pada tahun 2020 yaitu &quot;Nagara Rimba Nusa: Merawat Peradaban Menjaga Alam&quot;. Tema ini menekankan pada semangat berperadaban maju yang harmoni dengan alam di era milenial dan menjadi catatan sejarah dalam pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) baru Indonesia. Meskipun demikian, semangat konservasi alam tentunya diharapkan dapat tertanam di semua generasi mengingat tidak ada generasi manapun yang tidak bergantung pada alam.Tema &quot;Nagara Rimba Nusa: Merawat Peradaban Menjaga Alam&quot; menggambarkan bahwa semangat konservasi alam di era peradaban maju menjadi tanggung jawab semua pihak termasuk generasi masa kini ketika kemajuan teknologi, pola hidup, berpikir terbuka, terbatasnya waktu, dan tuntutan kualitas hidup semakin meningkat dan menjadi suatu kebanggaan dan kebutuhan untuk melaksanakannya. Pada akhir tahun 2019, ujian terhadap peradaban manusia memasuki babak baru dengan munculnya episentrum wabah virus corona di Wuhan yang dikenal dengan Covid-19. Seiring dengan kemampuan penyebarannya hingga melanda seluruh dunia, World Health Organization (WHO) kemudian menyatakannya sebagai global pandemic pada tanggal 11 Maret 2020. Sejalan dengan penetapan status global ini, seluruh negara di dunia, termasuk Indonesia, terus berupaya menanggulangi wabah Covid-19. Bahkan, pemerintah Indonesia telah mengkonsentrasikan sumber daya negara untuk menahan laju infeksi Covid-19 dan kematian manusia yang diakibatkannya sampai dengan ditemukannya vaksin. Pada akhirnya, kejadian pandemi ini telah membawa peradaban manusia ke dalam sebuah dimensi baru kehidupan yang mengharuskan cara hidup baru yang dikenal dengan istilah Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB), agar dapat beradaptasi dan bertahan dalam situasi pandemi yang belum berakhir. Pandemi Covid-19 ini tidak hanya mengakibatkan krisis di bidang kesehatan saja, namun juga berdampak pada seluruh aspek kehidupan manusia, terutama di bidang ekonomi, termasuk sektor pariwisata alam. Upaya reaktivasi kawasan konservasi pada bulan Juli 2020 yang bersamaan dengan skenario masa transisi dan pemulihan yaitu Juli hingga Desember, jumlah pengunjung ke kawasan konservasi (suaka margasatwa, taman nasional, dan taman wisata alam) diprediksi hanya akan mencapai 50% dibandingkan dengan tahun 2019, kecuali pada bulan Juli yang diasumsikan sama dengan Maret 2019 atau lebih landai (Direktorat PJLHK,2020).  Berdasarkan data dan proyeksi Direktorat PJLHK (2020), nilai ekonomi sektor pariwisata alam di suaka margasatwa, taman nasional, dan taman wisata alam yang hilang akibat pandemi Covid-19 selama tahun 2020 adalah Rp1,5 trilyun hingga Rp1,9 trilyun.Oleh karena itu, reaktivasi kawasan konservasi untuk mendukung kegiatan pariwisata alam mengusung konsep &amp;ldquo;Forest for Healing&amp;rdquo; yang berakar kuat dari sikap hidup dan budaya living with nature yang tidak mengedepankan jumlah pengunjung (mass tourism), namun justru quality tourism yang mengedepankan inovasi untuk menambah durasi kunjungan dan kemanfaatannya dari aspek kemanusiaan dan kelestarian alam. Seiring dengan optmisme yang sedang dibangun, living with nature merupakan salah satu cara pemulihan yang potensial dilakukan. Kawasan konservasi dengan pariwisata alamnya menjadi salah satu kekuatan bangsa Indonesia untuk dapat pulih pasca Covid-19 dalam tatanan baru (new normal). Matthew Silverstone (dalam buku Blinded bu Science pada 2014) menyebutkan bahwa berwisata dengan mengaktifkan interaksi panca indera dengan elemen alam, terbukti mampu meningkatkan kondisi fisik, mental, dan kesejahteraan spiritual, memberikan energi dan ketenangan. Pemulihan mental dan fisik individu dan masyarakat dapat dilakukan melalui kegiatan forest forhealing di kawasan konservasi. Dengan demikian, pentingnya memulihkan kehidupan dan peradaban manusia yang harmoni dengan alam dalam rangka menyongsong era baru (new normal) pasca pandemi Covid-19 ini akan menjadi semangat dalam peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) tahun 2020. Hal ini tentu sejalan dengan HKAN sebagai momentum keteladanan dan aksi nyata memasyarakatkan konservasi alam sebagai sikap hidup dan budaya bangsa Indonesia.  Semangat HKAN ini diawali 30 tahun yang lalu dengan lahirnya UNdang-undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem. Dengan mengusung tema &quot;Nagara Rimba Nusa: Merawat peradaban Menjaga Alam&quot;, maka penyelenggaraan HKAN tahun 2020 di Taman Nasional Kutai, Provinsi Kalimantan Timur ini diharapkan dapat menjadi titik awal kebangkitan bangsa Indonesia yang harmoni dengan alam pasca pandemi global Covid-19. Hal ini juga untuk mendukung Provinsi Kalimantan Timur sebagai calon Ibu Kota Negara (IKN) Indonesia yang baru pada lahan seluas +256.142 ha (berada di sebagian Kabupaten Penajam Paser Utara dan sebagian Kabupaten Kutai Kartanegara) yang mengusung tema Nagara Rimba Nusa yang diterjemahkan dalam konsep Forest City dalam konteks living with nature dalam rancangan pembangunannya. Selamat Hari Konservasi Alam Nasional 2020!</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Mon, 14 Sep 2020 01:16:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:14927</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/14577/SEDEKAH-ALAM-SATWA-DILEPAS-LIARKAN.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=14577</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=14577&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>SEDEKAH ALAM, SATWA DILEPAS LIARKAN</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/14577/SEDEKAH-ALAM-SATWA-DILEPAS-LIARKAN.aspx</link> 
    <description>Sukaraja, 4 Juli 2020. Pada Hari Sabtu 4 Juli 2020, Balai Besar Taman Nasional Bukit barisan Selatan bersama dengan Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Balai KSDA Bengkulu, didampingi Jaringan Satwa Indonesia Jakarta Animal Aid Network (JSI-JAAN),&amp;nbsp; kembali melakukan sedekah alam dengan melakukan pelepasliaran satwa-satwa liar yang dilindungi maupun tidak dilindungi. Kegiatan pelepas liaran satwa diawali dengan dilakukannya serah terima satwa yang akan dilepas liarkan, dari Balai KSDA Bengkulu pada Balai Besar TNBBS disaksikan oleh Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Ditjen KSDAE Indra Exploitasia.Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) mendapatkan kehormatan terpilih sebagai lokasi pelaksanaan kegiatan Pelepas Liaran Satwa. Lokasi pelepasliaran didalam kawasan TNBBS tepatnya di Patok 50 Resort Sukaraja SPTN I Sukaraja dan Resort Pemerihan SPTN II Bangkunat.&amp;nbsp; &amp;nbsp;Plt Kepala Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan Ismanto, S.Hut.,M.P. menjelaskan bahwa kondisi kawasan Hutan Taman Nasional masih sangat mendukung untuk pelepasliaran, mengingat ketersediaan pakan dan kondisi vegetasi yang cukup baik. &amp;ldquo;Kami berharap satwa-satwa yang dilepas dapat berperan dalam pengkayaan ekosistem hutan, dengan menjadikannya agen penyebar biji-bijian dan membantu penyerbukan, pengendali populasi serangga yang berpotensi menjadi hama bagi lahan pertanian dan perkebunan masyarakat sekitar kawasan hutan&amp;rdquo;, ujar Ismanto.Satwa liar yang dilepasliarkan di kawasan TNBBS terdiri dari 2 ekor (sepasang) Siamang (Symphalangus syndactius); 2 ekor (sepasang) Elang Brontok (Nisaetus cirrhatus); 60 ekor (28 ekor jantan dan 32 ekor betina) Kukang Sumatera (Nycticebus coucang). Keseluruhan Satwa liar berasal dari hasil sitaan penegakan hukum dan penyerahan dari masyarakat akibat konflik Balai KSDA Bengkulu.Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati, Ditjen KSDAE, Indra Exploitasia, menyampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu rangkaian proses pelaksanaan pelepasliaran ini. &amp;ldquo;Pelepasliaran satwa dari PPS (eksitu) ke habitat alaminya (insitu) merupakan wujud komitmen kita dalam pengelolaan satwa dari eksitu link to insitu, sekaligus merupakan upaya kita untuk membantu terciptanya keseimbangan ekosistem yang pada akhirnya akan mewujudkan suatu kondisi lingkungan hidup yang sehat demi kita semua&amp;rdquo;, ucap Direktur KKH.&amp;nbsp; Selanjutnya, Indra Exploitasia juga menyampaikan bahwa upaya-upaya pelepasliaran satwa, khususnya yang masih terdapat di beberapa Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) akan terus dilaksanakan secara intensif. Hal ini penting dilakukan untuk mengurangi beban operasional PPS dan memberikan kesejahteraan bagi satwa, karena hakikatnya rumah terbaik bagi satwa liar adalah di habitat alaminya.Kepala Balai KSDA Bengkulu Donal Hutasoit yang ikut menghadiri kegiatan pelepas liaran, menyampaikan bahwa kegiatan pelepasliaran satwa merupakan bagian dari tugas dan tanggung jawabnya untuk melestarikan dan mensejahterakan satwa liar. Terhitung pada tahun 2019, Balai KSDA Bengkulu bersama pihak terkait telah melakukan pelepasliaran satwa liar hasil sitaan, penyerahan dan konflik dengan masyarakat sebanyak 17.531 ekor satwa dengan rincian jenis: 4 ekor Mamalia, 39 ekor Primata, 6 ekor Reptil dan 17.482 ekor Burung dilindungi maupun tidak dilindungi. &amp;ldquo;Mengingat tahapan pelepasliaran ini membutuhkan tenaga dan materi yang tidak sedikit, dihimbau kepada seluruh lapisan masyarakat agar tidak membeli dan memelihara satwa lair. Karena prinsip ekonomi penawaran dan permintaan, memelihara satwa berarti sama dengan mendukung adanya perburuan dan perdagangan. Perburuan akan terus berlangsung selama masih adanya permintaan dan mendekatkan satwa menuju kepunahan&amp;rdquo;, ucap Donal Hutasoit.Tempat hidup bagi satwa yang paling ideal adalah habitat alaminya. Akan tetapi, karena sifat manusia yang egois, hanya mementingkan hasrat pribadi, kadang kala kita merasa bahwa kita telah memberikan yang terbaik bagi satwa peliharaan yang kita miliki, dengan hanya memandang apabila telah memberikan pakan yang cukup bahkan melimpah, dilengkapi dengan kandang yang indah dari sudut pandang si manusia itu sendiri, kita meng klaim bahwa satwa peliharaan kita &amp;ldquo;bahagia&amp;rdquo; dalam mengisi hari-harinya bersama kita. Padahal ini merupakan kekeliruan, terutama untuk hewan peliharaan yang diperoleh dari alam bebas.HUMAS BALAI BESAR TNBBS 2020.Photo by: Vivin A (Penyuluh BBTNBBS)</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Sat, 04 Jul 2020 04:04:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:14577</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/14294/Rafflesia-di-Camp-Rhino-TNBBS-Mekar-Lagi.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=14294</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=14294&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>Rafflesia di Camp Rhino TNBBS Mekar Lagi</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/14294/Rafflesia-di-Camp-Rhino-TNBBS-Mekar-Lagi.aspx</link> 
    <description>Selama awal tahun 2020 hingga bulan Juni sebanyak tiga kali bunga Rafflesia arnoldii tercatat mekar sempurna di Rhino Camp -Sukaraja, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.Pada awal Juni ini, pengunjung dapat melihat keindahan bunga rafflesia tidak jauh dari jalan tembus Sanggi-Bengkunat atau sekitar 150 meter dari badan jalan.Meskipun sebelumnya terdapat 9 knop (bakal bunga/bonggol) yang tersebar di daerah wisata Rhino Camp, baru satu knop yang berhasil mekar sempurna di tanggal 4 Juni 2020 ini.Tidak berhasilnya knop bunga Rafflesia mekar biasanya disebabkan dimakan satwa liar atau pun akibat curah hujan yang tinggi menyebabkan knop yang berukuran tidak besar akan membusuk.Namun, keberadaan hujan juga dapat menyebabkan knop yang besar dan siap mekar akan lebih cepat membuat kelopak bunga mekar sempurna.Keindahan dan kekayaan hayati di TNBBS tidak terlepas dari ancaman kelestariannya.Sebagai salah satu potensi obyek daya tarik wisata di TNBBS, upaya yang telah dilakukan selama ini untuk menjaga kelestarian Raffllesia di TNBBS baru sebatas pemantauan/monitoring, pemetaan daerah sebaran dan upaya pencegahan knop dari ancaman predator melalui pemagaran knop-knop yang ada.Mengingat bunga ini tidak selalu mekar setiap saat dan sebagai salah satu bentuk upaya pelestarian jika memungkinkan perlu dilakukan &amp;ldquo;rekayasa&amp;rdquo; melalui penanaman tetrastigma di sekitar lokasi kawasan wisata TNBBS.[Tri Sugiharti dan Susan Saputri, PEH madya dan PEH pelaksana]&amp;nbsp;disadur dari : http://www.jejamo.com/rafflesia-di-camp-rhino-tnbbs-mekar-lagi.html</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Mon, 08 Jun 2020 01:09:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:14294</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/14260/Pantau-Pergerakan-Gajah-Sumatera-KLHK-Manfaatkan-Teknologi-GPS.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=14260</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=14260&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>Pantau Pergerakan Gajah Sumatera, KLHK Manfaatkan Teknologi GPS</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/14260/Pantau-Pergerakan-Gajah-Sumatera-KLHK-Manfaatkan-Teknologi-GPS.aspx</link> 
    <description>Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melakukan pemasangan GPS Collar pada Gajah Sumatera dalam rangka meminimalisasi terjadinya konflik dengan manusia.&amp;ldquo;Pemasangan GPS collar dilakukan sebagai upaya monitoring pergerakan kelompok Gajah dalam rangka mitigasi konflik atau early warning system,&amp;rdquo; kata Plt. Kepala Balai TNBBS Ismanto.Upaya pencegahan lain yang dilakukan yaitu penggiringan kelompok gajah yang keluar dari kawasan TNBBS, seperti yang dilakukan pada 27 April hingga 9 Mei 2020.&quot;Penggiringan kelompok gajah liar sebanyak 12 ekor yang dipimpin oleh ketua Forum Mahout Nazaruddin ini melibatkan pihak TNBBS, ERU TNWK, YABI, WCS, KPHL IX, Satgas HKM, berhasil menggiring kelompok gajah tersebut hingga masuk ke dalam kawasan TNBBS. Meskipun kondisi cuaca hujan lebat sempat membuat kelompok gajah tersebut kembali ke luar kawasan TNBBS,&quot; tutur Ismanto.Mempertimbangkan berbagai macam faktor, terutama cuaca dan topografi, akhirnya diputuskan segera dilakukan pemasangan GPS Collar pada satu ekor Gajah dari kelompok gajah tersebut. Tim pun mempersiapkan peralatan dan perlengkapan pemasangannya, seperti GPS Collar, petasan, GPS, kamera, senjata bius dan obat-obatan. Kemudian mereka bergerak menuju posisi kelompok gajah yang berada di daerah Talang Selawe.Setelah menentukan gajah yang akan dipasang GPS collar, Nazaruddin melakukan penembakan bius kepada gajah yang akan dipasangi GPS collar. Setelah pemasangan GPS Collar selesai, tim melakukan pemantauan hingga gajah sadar dan bergabung kembali dengan kelompok. Adapun data gajah yang dipasang GPS Collar adalah gajah betina, berusia 25 s/d 30 tahun, berat badan adalah 2.500 Kg dan tinggi badan 219 Cm.Ismanto menyampaikan apresiasi kepada tim yang berhasil memasang GPS Collar atas kerja keras, dedikasinya dan kerjasamanya. &quot;Meski pekerjaan ini dilakukan pada bulan Ramadhan, ditengah wabah pandemi dengan kondisi topografi TNBBS, dapat dilaksanakan sesuai rencana,&quot; ucapnya.Selanjutnya, dilakukan pemantauan secara langsung kepada kelompok gajah oleh tim blokade dan dilakukan pemantauan melalui satelit. GPS Collar diatur dengan interval transmisi sinyal per satu jam dapat dimonitor melalui web application dan mobile application. Mobile application menampilkan monitoring posisi GPS Collar dan histori pergerakan GPS Collar. Sedangkan web application menampilkan GPS Collar secara near real time dalam bentuk 3 dimensi.&amp;nbsp;Sementara itu, Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati (KKH) KLHK Indra Exploitasia juga menyampaikan apreasiasi kepada tim mahout yang berhasil menggiring gajah ke dalam kawasan TNBBS, sekaligus memasang GPS Collar pada salah 1 gajah di kelompoknya.&amp;ldquo;Pemasangan ini telah sesuai SOP pemasangan GPS dengan mengedepankan kesejahteraan satwa tanpa satwa terganggu dengan adanya Collar. Tentunya GPS Collar ini diharapkan dapat bekerja dengan baik, memantau pergerakan kelompok gajah dalam jalur jelajahnya. Apabila gajah keluar dari jalurnya, maka penanganan gajah dapat segera dilakukan sebelum terjadi interaksi antara manusia dan satwa,&amp;rdquo; tegas Indra._______________Jakarta, Kementerian LHK, 11 Mei 2020Penanggung jawab berita:Kepala Biro Hubungan Masyarakat KLHKNunu Anugrah - 081281331247Website:www.menlhk.go.idwww.ppid.menlhk.go.idYoutube:Kementerian LHKFacebook:Kementerian Lingkungan Hidup dan KehutananInstagram:kementerianlhkTwitter:@kementerianlhk&amp;nbsp;</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Tue, 26 May 2020 03:22:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:14260</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/14259/Tim-Mitigasi-Giring-Balik-Gajah-Kelompok-12-ke-TN-Bukit-Barisan.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=14259</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=14259&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>Tim Mitigasi Giring Balik Gajah Kelompok 12 ke TN Bukit Barisan</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/14259/Tim-Mitigasi-Giring-Balik-Gajah-Kelompok-12-ke-TN-Bukit-Barisan.aspx</link> 
    <description>Tim Mitigasi Konflik manusia dengan gajah yang dikoordinasi Balai Besar TN Bukit Barisan Selatan, Senin (27/4/2020), berhasil menggiring balik kawanan gajah kelompok 12, ke kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.Penggiringan balik ini dilakukan, mengingat berbagai upaya mitigasi konflik antara masyarakat disekitarnya dengan gajah Sumatera, kelompok 12, di sekitar kawasan TN Bukit Barisan Selatan dan Kesatuan Pemangkuan Hutan Lindung (KPHL) Kotaagung Utara, belum membuahkan hasil optimal.&amp;ldquo;Berbagai upaya mitigasi konflik telah dilakukan, namun satwa gajah tetap mengikuti ruang jelajah nya dan kembali ke hutan lindung,&amp;rdquo; jelas Ismanto kepada pers di Lampung, Kamis (30/4/2020).Karena itu, lanjut Plt Kepala Balai TN Bukit Barisan Selatan, saat rapat yang dilangsungkan pekan lalu, disepakati untuk kembali dilakukan pengiringan gajah Kelompok 12, agar masuk ke TN Bukit Barisan Selatan, dan dimulai dari wilayah Hutan Lindung daerah Blok 8.Disebutkan Ismanto bahwa kini sudah memasuki tahun ketiga, pihaknya bersama Pemerintah Daerah Provinsi Lampung dan Kabupaten Tanggamus, serta mitra strategis, melakukan upaya mitigasi untuk mencegah konflik antara manusia dan gajah Sumatera (Kelompok 12) di sekitar kawasan TN Bukit Barisan Selatan dan Kesatuan Pemangkuan Hutan Lindung (KPHL) Kotaagung Utara.Namun upaya yang dilakukan tersebut, dirasakan hasilnya belum optimal.Konflik antara masyarakat dengan kawanan gajah masih sering terjadi, sehingga disepakati, perlunya dilakukan penggiringan balik.&amp;ldquo;Kita juga telah memasang GPS Collar pada salah satu gajah agar memudahkan pemantauan pergerakan mereka,&amp;rdquo; tutur Ismanto lagi.MengapresiasiKementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sangat mengapreasi atas keberhasilan Tim Penanganan Mitigasi Konflik menggiring balik kawanan gajah Kelompok 12 ini ke habitatnya.&amp;ldquo;Sungguh kementerian sangat mengapresiasi atas kerja keras tim mitigasi ini, hingga kawanan gajah itu kembali ke habitatnya yang aman,&amp;rdquo; kata Direktur KKH KLHK, Indra Exploitasia.Menurutnya, mitigasi konflik merupakan program penyelamatan satwa yang juga penyelamatan manusia, dan tentu keselamatan manusia menjadi prioritas pada saat terjadi interaksi antara satwa dan manusia, baru kemudian keselamatan satwa itu sendiri.Gajah merupakan satwa yang dilindungi sesuai Peraturan Menteria LHK Nomor 106 tahun 2018, tentang Daftar Tumbuhan dan Satwa Dilindungi dan masuk dalam IUCN Red List kategori Terancam Kritis (Critically Endangered).Pada saat ini gajah Indonesia tersebar di 23 kantong habitat, di delapan provinsi seperti Aceh, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung.Populasi gajah Sumatera diperkirakan dalam kisaran 928 hingga 1379 individu.&amp;nbsp;&amp;nbsp;</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Tue, 26 May 2020 03:19:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:14259</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/14258/Siang-Malam-Petugas-Berjuang-Menggiring-Gajah-Kembali-ke-Habitat-di-TN-Bukit-Barisan-Selatan.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=14258</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=14258&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>Siang Malam Petugas Berjuang Menggiring Gajah Kembali ke Habitat di TN Bukit Barisan Selatan</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/14258/Siang-Malam-Petugas-Berjuang-Menggiring-Gajah-Kembali-ke-Habitat-di-TN-Bukit-Barisan-Selatan.aspx</link> 
    <description>Saat ini sudah memasuki tahun ketiga, Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan bersama Pemprov&amp;nbsp;Lampung dan Kabupaten Tanggamus, serta mitra strategis, melakukan upaya mitigasi untuk mencegah konflik antara manusia dan Gajah Sumatera (kelompok 12) di sekitar kawasan TN Bukit Barisan Selatan dan Kesatuan Pemangkuan Hutan Lindung (KPHL) Kotaagung Utara.Berbagai upaya mitigasi konflik telah dilakukan, tetapi satwa gajah tetap mengikuti ruang jelajahnya dan kembali ke hutan lindung.Maka, pada rapat&amp;nbsp;baru-baru ini disepakati untuk kembali melakukan penggiringan gajah masuk ke dalam TN Bukit Barisan Selatan.Adapun upaya penggiringan selanjutnya akan dilakukan pemasangan GPS Collar untuk memantau pergerakan gajah setelah penggiringan selesai.Kesepakatan dihasilkan dari rapat yang dipimpin langsung oleh Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Balai Besar TN Bukit Barisan Selatan, Ismanto, dan dihadiri oleh Kepala Balai Taman Nasional Way Kambas, Kepala Seksi Konservasi Wilayah (SKW) III Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu, Plt. Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, Kepala KPHL IX Kotaagung Utara, serta Ketua Forum Mahout Indonesia, Nazaruddin.Selain itu hadir juga Project Leader WCS-IP, Ketua Satgas Konflik dari Pekon Karang Agung, Pekon Tulung Asahan, Pekon Sidomulyo. Serta Ketua Satgas Konflik dari Hutan Kemasyarakatan (HKm) Lestari Sejahtera, HKm Tulung Agung, HKm Hutan Lestari, HKm Mulya Agung.Plt. Balai Besar TN Bukit Barisan Selatan, Ismanto dalam keterangan tertulisnya mengatakan perlu adanya kerja sama, dukungan, serta sinergi antarpihak dan pemangku kepentingan agar kegiatan penggiringan gajah sebagai salah satu upaya pelestarian satwa liar di alam bisa berjalan dengan baik.&quot;Penggiringan kelompok Gajah 12 dimulai dari wilayah Hutan Lindung daerah Blok 8 pada Senin 27 April dan pemasangan GPS Collar pada salah satu gajah dilaksanakan setelah kawanan gajah masuk dalam Kawasan TN Bukit Barisan Selatan,&quot; terang Ismanto.Dalam hal ini satu (1) unit GPS Collar disiapkan oleh Direktorat Kinservasi Keanekaragaman Hayati (KKH) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), sedangkan untuk teknis pemasangan GPS Collar dipimpin oleh Ketua Forum Mahout, Nazarudin dibantu oleh personil yang berasal dari Balai TN Way Kambas, BKSDA Bengkulu dan Balai Besar TN Bukit Barisan Selatan.Sementara itu, Direktur KKH, KLHK, Indra Exploitasia di Jakarta memberikan apresiasi kepada tim penanganan mitigasi konflik, terutama di tengah pandemi COVID-19, bekerja siang malam untuk melakukan penggiringan gajah menuju habitat yang aman.Indra melanjutkan mitigasi konflik merupakan program penyelamatan satwa. Pada saat proses penyelamatan satwa, yang pertama menjadi prioritas adalah keselamatan manusia pada saat terjadi interaksi antara satwa dan manusia.Selanjutnya, menurut Indra adalah upaya atas keselamatan satwa itu sendiri. Interaksi ini tentunya harus dapat dipastikan tidak terulang lagi.&quot;Untuk itu perlu komitmen para pihak dalam berkehidupan secara harmoni dengan alam beserta isinya. Keseimbangan bisa terjadi apabila ruang hidup satwa juga menjadi atensi para pihak,&quot; jelas Indra.Satwa Gajah (Elephas maximus sumatranus) merupakan satwa dilindungi berdasarkan Permen LHK nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Daftar Tumbuhan dan Satwa Dilindungi dan masuk dalam IUCN Red List kategori Terancam Kritis (Critically Endangered).Gajah Indonesia tersebar di 23 kantong habitat di delapan provinsi yakni Aceh, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung.Dari keseluruhan kantong habitat gajah di Indonesia, jumlah gajah diperkirakan berada di antara 928 &amp;ndash; 1379 individu.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Tue, 26 May 2020 03:06:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:14258</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/14257/Mitigasi-Konflik-Gajah-Kelompok-Dua-Belas-di-Taman-Nasional-Bukit-Barisan-Selatan.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=14257</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=14257&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>Mitigasi Konflik Gajah Kelompok Dua Belas di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/14257/Mitigasi-Konflik-Gajah-Kelompok-Dua-Belas-di-Taman-Nasional-Bukit-Barisan-Selatan.aspx</link> 
    <description>Nomor: SP.174/HUMAS/PP/HMS.3/4/2020Sudah memasuki tahun ketiga, Balai Besar Taman Nasional (TN) Bukit Barisan Selatan bersama Pemerintah Daerah Provinsi Lampung dan Kabupaten Tanggamus, serta mitra strategis, melakukan upaya mitigasi untuk mencegah konflik antara manusia dan Gajah Sumatera (kelompok 12) di sekitar kawasan TN Bukit Barisan Selatan dan Kesatuan Pemangkuan Hutan Lindung (KPHL) Kotaagung Utara.Berbagai upaya mitigasi konflik telah dilakukan, namun satwa gajah tetap mengikuti ruang jelajah nya dan kembali ke hutan lindung. Maka, pada rapat (22/04/2020) disepakati untuk kembali melakukan penggiringan gajah masuk ke dalam TN Bukit Barisan Selatan. Adapun upaya penggiringan selanjutnya akan dilakukan pemasangan GPS Collar untuk memantau pergerakan gajah setelah penggiringan selesai.Kesepakatan dihasilkan dari rapat yang dipimpin langsung oleh Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Balai Besar TN Bukit Barisan Selatan, Ismanto, dan dihadiri oleh Kepala Balai Taman Nasional Way Kambas, Kepala Seksi Konservasi Wilayah (SKW) III Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu, Plt. Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, Kepala KPHL IX Kotaagung Utara, serta Ketua Forum Mahout Indonesia, Nazaruddin.Selain itu hadir juga Project Leader WCS-IP, Ketua Satgas Konflik dari Pekon Karang Agung, Pekon Tulung Asahan, Pekon Sidomulyo. Serta Ketua Satgas Konflik dari Hutan Kemasyarakatan (HKm) Lestari Sejahtera, HKm Tulung Agung, HKm Hutan Lestari, HKm Mulya Agung.Plt. Balai Besar TN Bukit Barisan Selatan, Ismanto dalam keterangan tertulisnya menyampaikan bahwa perlu adanya kerja sama, dukungan, serta sinergi antar pihak dan pemangku kepentingan agar kegiatan penggiringan gajah sebagai salah satu upaya pelestarian satwa liar di alam bisa berjalan dengan baik.&quot;Penggiringan kelompok Gajah 12 dimulai dari wilayah Hutan Lindung daerah Blok 8 pada Senin (27/04/2020) dan pemasangan GPS Collar pada salah satu gajah dilaksanakan setelah kawanan gajah masuk dalam Kawasan TN Bukit Barisan Selatan&quot;, terang Ismanto.Dalam hal ini satu (1) unit GPS Collar disiapkan oleh Direktorat Kinservasi Keanekaragaman Hayati (KKH) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), sedangkan untuk teknis pemasangan GPS Collar dipimpin oleh Ketua Forum Mahout, Nazarudin dibantu oleh personil yang berasal dari Balai TN Way Kambas, BKSDA Bengkulu dan Balai Besar TN Bukit Barisan Selatan.Direktur KKH, KLHK, Indra Exploitasia di Jakarta memberikan keterangan bahwa, pihaknya memberikan apresiasi kepada tim penanganan mitigasi konflik, terutama ditengah pandemi COVID-19, bekerja siang malam untuk melakukan penggiringan gajah menuju habitat yang aman.&amp;nbsp;Indra melanjutkan bahwa mitigasi konflik merupakan program penyelamatan satwa. Pada saat proses penyelamatan satwa, yg pertama menjadi prioritas adalah keselamatan manusia pada saat terjadi interaksi antara satwa dan manusia.&amp;nbsp;Selanjutnya, menurut Indra adalah upaya atas keselamatan satwa itu sendiri. Interaksi ini tentunya harus dapat dipastikan tidak terulang lagi. &quot;Untuk itu perlu komitmen para pihak dalam berkehidupan secara harmoni dengan alam beserta isinya. Keseimbangan bisa terjadi apabila ruang hidup satwa juga menjadi atensi para pihak&quot;, jelas Indra.Satwa Gajah (Elephas maximus sumatranus) merupakan satwa dilindungi berdasarkan Permen LHK nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Daftar Tumbuhan dan Satwa Dilindungi dan masuk dalam IUCN Red List kategori Terancam Kritis (Critically Endangered).Gajah Indonesia tersebar di 23 kantong habitat di delapan provinsi yakni Aceh, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung. Dari keseluruhan kantong habitat gajah di Indonesia, jumlah gajah diperkirakan berada di antara 928 &amp;ndash; 1379 individu.(*)______________________________Jakarta, KLHK, 30 April 2020Penanggung jawab berita:Kepala Biro Hubungan Masyarakat KLHKNunu Anugrah - 081281331247Website:www.menlhk.go.idwww.ppid.menlhk.go.idYoutube:Kementerian LHKFacebook:Kementerian Lingkungan Hidup dan KehutananInstagram:kementerianlhkTwitter:@kementerianlhk</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Tue, 26 May 2020 02:57:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:14257</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10838/Mengenal-Gajah-sumatera-Elephas-Maximus-sumatranus.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=10838</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=10838&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>Mengenal Gajah sumatera (Elephas Maximus sumatranus)</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10838/Mengenal-Gajah-sumatera-Elephas-Maximus-sumatranus.aspx</link> 
    <description>Kalau kita tak kenal maka tak akan saying, demikian salah satu pepatah yang popular dikehidupan berbudaya bangsa yang kita cintai ini Indonesia,&amp;nbsp; Terkadang orang berpikiran sepihak dalam kehidupan ini, sebagian orang melihat sisi kehidupan hanya didasari atas azas kebutuhan dan nilai manfaat secara manusiawi yang mengabaikan kebutuhan dan kelangsungan hidup mahluk lain diantaranya satwa Gajah sumatera.  Kita mungkin sebagian tidak tahu akan peran kehidupan dan manfaat satwa Gajah ini dalam memelihara linkungannya, seperti kita ketahui Gajah sumatera hidup berkelompok dan merupakan hewan nocturnal yang aktif pada malam hari dalam sehari semalam terus bergerak bisa mencapai 20 km. dapat kita bayangkan jalannya rombongan gajah mereka melakukan penjarangan tiap hari membuka ruang sinar matahari tembus ke lantai hutan sehingga proses potosintesa bisa berjalan dan seperti halnya kita bercocok tanam maka tumbuhan akan tumbuh dengan baik, belum lagi disebabkan pencernaannya yang buruk mengakibatkan gajah buang kotoran tiap 1 jam sekali sehingga hutan kita akan terpupuk&amp;nbsp; dengan jumlah pupuk yang cukup yaitu&amp;nbsp; &amp;plusmn;5 % dari bobot tubuhnya&amp;nbsp; yang mencapai 3-4 ton. Dan untuk mengenal sosok menarik satwa endemic sumatera ini&amp;nbsp; kami ulas sebagai berikut. Gajah&amp;nbsp;sumatera adalah salah satu sub spesies gajah&amp;nbsp;asia, nama ilmiahnya&amp;nbsp;Elephas maximus sumatranus. Di alam bebas, gajah sumatera hanya hidup di pulau Sumatera.&amp;nbsp;Saat ini&amp;nbsp;kondisinya sangat mengkhawatirkan dan digolongkan ke dalam&amp;nbsp;daftar merah IUCN. Habitat gajah sumatera yakni hutan alam di pulau Sumatera sedang mengalami kerusakan parah. Kondisi ini menyebabkan hilangnya sebagian habitat gajah. Dalam jangka panjang akan mengancam kelangsungan hidup mamalia darat terbesar ini. Klasifikasi ilmiah Kingdom:&amp;nbsp;Animalia Phylum:&amp;nbsp;Chordata Class:&amp;nbsp;Mamalia Family:&amp;nbsp;Elephantidae Genus:&amp;nbsp;Elephas Spesies:&amp;nbsp;Elephas maximus Sub spesies:&amp;nbsp;Elephas maximus sumatranus Secara ilmiah gajah diklasifikasikan ke dalam keluarga&amp;nbsp;Elephantidae. Terdapat dua genus hewan yang termasuk dalam keluarga&amp;nbsp;Elephantidae&amp;nbsp;yang masih hidup di muka bumi yaitu genus&amp;nbsp;Elephas&amp;nbsp;dan&amp;nbsp;Loxodonta.1&amp;nbsp;Genus&amp;nbsp;Elephas&amp;nbsp;&amp;nbsp;terdiri dari satu spesies yaitu&amp;nbsp;Elephas maximus&amp;nbsp;atau yang kita kenal sebagai gajah asia.2&amp;nbsp;Sedangkan&amp;nbsp;Loxodonta terdiri dari dua spesies yakni&amp;nbsp;Loxodonta africana&amp;nbsp;dan&amp;nbsp;Loxodonta cyclotis&amp;nbsp;keduanya digolongkan sebagai gajah afrika.3 Gajah asia atau&amp;nbsp;Elephas maximus&amp;nbsp;memiliki tiga sub spesies yaitu&amp;nbsp;Elephas maximus indicus,&amp;nbsp;Elephas maximus maximus&amp;nbsp;dan&amp;nbsp;Elephas maximus sumatranus.4&amp;nbsp;Gajah sumatera adalah salah satu sub spesies gajah asia, nama ilmiahnya&amp;nbsp;Elephas maximus sumatranus. Di Indonesia terdapat juga gajah kalimantan yang masih digolongkan sebagai&amp;nbsp;Elephas maximus indicus.5&amp;nbsp;Namun dalam keterangan lain disebutkan bahwa gajah kalimantan merupakan sub spesies tersendiri, yakni&amp;nbsp;Elephas maximus bornensis.6 Genus&amp;nbsp;Loxodonta&amp;nbsp;sendiri terdiri dari dua spesies, yakni&amp;nbsp;Loxodonta africana&amp;nbsp;ditemukan hidup di wilayah savana Afrika dan&amp;nbsp;Loxodonta cyclotis&amp;nbsp;ditemukan di hutan tropis Afrika.7&amp;nbsp;Versi lain menyebutkan hanya ada satu spesies gajah dari genus&amp;nbsp;Loxodonta. Menurut versi ini kedua jenis gajah Afrika tersebut merupakan sub spesies, yakni&amp;nbsp;Loxodonta africana africana&amp;nbsp;dan&amp;nbsp;Loxodonta africana cyclotis.8 Ciri-ciri gajah sumatera Gajah sumatera memiliki ciri khas tertentu, terutama bila diamati dari bentuk fisiknya. Ciri-ciri gajah sumatera secara umum adalah sebagai berikut: &amp;sect;&amp;nbsp; Bobot gajah sumatera sekitar 3-5 ton dengan tinggi 2-3 meter.9 &amp;sect;&amp;nbsp; Kulitnya terlihat lebih terang dibanding gajah Asia lain dan dibagian kupingnya sering terlihat depigmentasi, terlihat seperti flek putih kemerahan. &amp;sect;&amp;nbsp; Hanya gajah jantan yang memiliki gading yang panjang. Pada betina, kalaupun ada gadingnya pendek hampir tidak kelihatan. Berbeda dengan gajah Afrika dimana jantan dan betina sama-sama punya gading. &amp;sect;&amp;nbsp; Ciri mencolok lainnya ada pada bagian atas kepala. Gajah sumatera memiliki dua tonjolan sedangkan gajah Afrika cenderung datar. &amp;sect;&amp;nbsp; Kuping gajah sumatera lebih kecil dan berbentuk segitiga sedangkan gajah Afrika kupingnya besar dan berbentuk kotak.10 &amp;sect;&amp;nbsp; Gajah sumatera memiliki 5 kuku di kaki bagian depan dan 4 kuku di kaki belakang. &amp;nbsp; Gajah sumatera hidup di hutan-hutan dataran rendah di bawah 300 meter dpl. Tapi juga sering ditemukan merambah ke dataran yang lebih tinggi. Jenis hutan&amp;nbsp;yang disukainya adalah kawasan rawa dan hutan gambut. Populasinya tersebar di 7 propinsi meliputi Nangroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan dan Lampung.11 Pada tahun 2007 populasi gajah sumatera di alam liar diperkirakan sekitar 2400-2800 ekor. Turun separuhnya dibanding tahun 1985 sekitar 4800 ekor. Saat ini jumlahnya terus diperkirakan mengalami penyusutan. Karena habitat hidupnya terus menyempit. Terhitung 25 tahun terakhir, Pulau Sumatera telah kehilangan 70% luas hutan tropis yang menjadi habitat gajah.12 Gajah termasuk binatang nokturnal yang aktif di malam hari. Hewan ini hanya membutuhkan waktu tidur selama 4 jam per hari dan terus bergerak selama 16 jam untuk menjelajah dan mencari makanan. Sisanya digunakan untuk berkubang dan bermain. Pergerakan gajah dalam sehari bisa mencapai areal seluas 20 km2. Idealnya&amp;nbsp;kebutuhan luas areal untuk habitat&amp;nbsp;gajah liar&amp;nbsp;minimal&amp;nbsp;250 km2&amp;nbsp;berupa hamparan hutan yang tidak terputus.13 Perilaku makan Gajah sumatera memakan rumput-rumputan, daun, ranting, umbi-umbian dan kadang buah-buahan. Setidaknya terdapat 69 spesies tumbuhan yang bisa dijadikan pakan gajah. Tumbuhan tersebut terdiri dari 29 kelompok rumput-rumputan dan 40 kelompok tanaman non rumput. Gajah sumatera diketahui lebih menyukai rumput-rumputan.14 Efesiensi sistem pencernaan gajah sangat buruk. Hewan ini bisa membuang fesesnya setiap satu jam sekali. Tidaklah heran bila dalam sehari&amp;nbsp;gajah sumatera memerlukan makanan hingga&amp;nbsp;230&amp;nbsp;kg atau setara dengan 5-10% dari bobot tubuhnya. Sedangkan untuk minum dibutuhkan&amp;nbsp;160 liter air setiap hari. Di musim kemarau&amp;nbsp;gajah sumatera bisa menggali air di dasar sungai yang mengering hingga kedalaman satu meter. Perilaku reproduksi Gajah jantan memiliki periode&amp;nbsp;musth, yaitu masa produksi hormon testosteon.&amp;nbsp; Musth menandakan bahwa gajah jantan sudah siap kawin.&amp;nbsp; Secara umum gajah jantan akan mengalami&amp;nbsp;musth&amp;nbsp;setelah berumur sekitar 12-15 tahun. Saat gajah jantan memasuki periode&amp;nbsp;musth&amp;nbsp;akan&amp;nbsp;terjadi perubahan perilaku, nafsu makannya menurun, gerakannya lebih agresif dan suka mengendus-ngendus dengan belalainya.&amp;nbsp;Selain itu terjadi juga perubahan fisik seperti sering meneteskan urin, penis sering keluar dan dari dahinya mengeluarkan kelenjar berbau menyengat. Gajah betina&amp;nbsp;bisa melahirkan anak setelah berumur di atas 9-10&amp;nbsp;tahun. &amp;nbsp;Usia kehamilan mencapai 22 bulan. Bayi gajah sumatera yang baru lahir memiliki bobot tubuh sekitar 40-80 kg dengan tinggi 75-100 cm. Bayi tersebut akan diasuh oleh induknya hingga berumur 18 bulan.&amp;nbsp;Dalam satu kali kehamilan biasanya terdapat satu bayi, namun dalam beberapa kasus ada juga yang melahirkan hingga dua&amp;nbsp;bayi. Jarak waktu antar kehamilan berkisar 4-4,5 tahun.15 Perilaku sosial Gajah merupakan hewan sosial yang hidup berkelompok. Kelompok berperan penting dalam menjaga kelangsungan hidup gajah. Jumlah&amp;nbsp;anggota kelompok sangat bervariasi. Tergantung pada kondisi sumber daya alam dan luas habitat. Gajah sumatera bisa ditemukan dalam kelompok&amp;nbsp;yang terdiri dari 20-35 ekor, tetapi juga ada kawanan yang hanya 3 ekor saja. Setiap kelompok dipimpin oleh seekor betina. Sedangkan yang jantan berada dalam kelompok untuk periode tertentu saja. Gajah yang tua akan hidup memisahkan diri dari kelompoknya hingga pada akhirnya mati.16 Gajah sumatera sangat peka dengan bunyi-bunyian. Untuk melakukan perkawinan dan berkembang biak,&amp;nbsp;gajah memerlukan suasana yang tenang dan nyaman. Suara alat-alat berat dan gergaji mesin sangat menganggu perkembangbiakan gajah.17 &amp;nbsp; Setatus Perlindungan IUCN Pada tahun 2011, IUCN menetapkan status konservasi gajah sumatera ke dalam kategori&amp;nbsp;Critically Endangered&amp;nbsp;(CR). Artinya, satwa ini berada diambang kepunahan. Status CR berada hanya dua tingkat dari status punah di alam liar dan punah sepenuhnya.18 Hukum Republik Indonesia Status konservasi gajah sumatera dalam sistem hukum di Indonesia termasuk satwa yang dilindungi oleh UU No.5&amp;nbsp;tahun&amp;nbsp;1990&amp;nbsp;dan PP 7/1999. Perlindungan diberikan karena ancaman terhadap kelangsungan hidupnya semakin besar. Ancaman terbesar datang karena&amp;nbsp;rusaknya habitat karena berebut dengan&amp;nbsp;lahan perkebunan dan pertanian. Sehingga sering kali terjadi&amp;nbsp;konflik dengan manusia. Ancaman lain karena perburuan untuk diambil gadingnya. Demikian sekilas info tentang satwa Gajah yang selama ini ada berdampingan dengan kehidupan kita, seyogyanya sebagai khalifah di muka bumi ini kita hendaklah berlaku bijak dan punya tanggung jawab bersama dalam melindungi kelangsungan hidup satwa ini&amp;hellip; (Maman Suherman, A.Md, staf Perencanaan, Perlindungan dan Pengawetan Balai Besar TNBBS) &amp;nbsp; Sumber &amp;amp; Referensi 1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Elephantidae&amp;nbsp;Gray, 1821.  2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Elephas maximus&amp;nbsp;Linnaeus, 1758.  3.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Loxodonta&amp;nbsp;Anonymous, 1827.  4.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Elephas maximus&amp;nbsp;Linnaeus, 1758.  5.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Elephas maximus.&amp;nbsp;IUCN.&amp;nbsp;  6.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sumatran Elephant. A-Z Animal.&amp;nbsp;↩ 7.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Gajah Sumatera dan Gajah Afrika Berbeda. Biodiversity Warrior.&amp;nbsp; 8.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. 2007. Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Gajah Sumatera dan Gajah Kalimantan 2007-2017. Departemen Kehutanan RI.&amp;nbsp; 9.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sumatran Elephant (Elephas maximus ssp.sumatranus). IUCN.&amp;nbsp;↩</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Wed, 20 Dec 2017 19:47:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:10838</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10803/MENGURANGI-PERAMBAH-DENGAN-POTENSI.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=10803</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=10803&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>MENGURANGI PERAMBAH DENGAN POTENSI</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10803/MENGURANGI-PERAMBAH-DENGAN-POTENSI.aspx</link> 
    <description>menjadi bagian dari seorang rimbawan adalah sesuatu yang bisa disebut ruarbiasa.,yaa begitulah,karena ketika orang diluar sana menghabiskan waktunya saat libur dengan keluarga rekan yg pastinya hapy hapy, kita tetap dilapangan (bukan lapangan bola) untuk menjaga hutan ini (TNBBS) tetap exis dengan keutuhan sumber daya alam hayati yang dalam kondisi saat ini dalam keadaan list in.danger.. memang walaupun dengan iklas dan semangat menjalani hal diatas tidak membuat tindak pidana kehutanan sepenuhnya teratasi. hal tersebut dikarenakan banyak faktor salah satunya perbandingan luas dengan personil yang tidak sesuai. tak perlu jauh kemana untuk mencari contoh mari kita menuju salah satu dari 17 resort yang ada di TNBBS yes this is Suoh. resort dengan luas 37rb ha ini berada di seksi pengelolaan wilayah 3 krui dan bidang pengelolaan wilayah 2 liwa balai besar TNBBS secara administrasi pemerintahan berada di kabupaten lampung barat. luas 37 rb ha merupakan luasan yang tidak kecil apalagi hanya di jaga oleh 2 personil Polhut dan 5 personil masyarakat mitra polhut (mmp) dalam lingkup resort, bandingkan dengan luasan balai TN gunung Ciremai yang hanya 15rb ha,ya itu 1 balai pasti jumlah personilnya lebih banyak.tapi itulah realitanya namun kita tetap bangga karena tempat kita masih banyak flora ataupun fauna yang tidak bisa kita jumpai di taman nasional lain contohnya bunga raflesia dari satwa kita ada gajah sumatra,harimau sumatra badak sumatra (merupakan satwa kunci di TNBBS) dan banyak lagi walaupun saat ini populasi berkurang karena ulah pemburu tidak bertanggung jawab. oke bro,tak akan selesai perdebatan jika membandingkan dengan taman nasional yang berada di jawa bahasa jawane &quot;wes ono urusan lan bagiane dewe dewe&quot;. saat ini yang perlu di perhatikan yaitu rumah kita sendiri,.bagaimana kita menjadikan rumah kita resort suoh menjadi rumah yang indah dan nyaman seperti hal nya rumah pribadi kita. perlu diketahui bahwa luasan wilayah resort suoh merupakan wilayah resort terluas yang berada di TNBBS,tentunya permasalahan yang ada juga sangatlah kompleks.,mulai dari ilegal loging perburuan dan paling banyak adalah perambahan,maaf kata perambahan saat ini dianggap terlalu mainstream dan diganti dengan penggunaan lahan tanpa izin (diperalus) padahal buat apa ya? itu kan slah satu perusak hutan kita juga.,yweslah ben ae mereka bermain kata-kata,kita kembali ke laptop. di resort suoh antara jumlah hutan yang masih utuh dengan luas deforestrasi spertiny luasan deforestrasinya hal tersebut terliat dari data base Balai besar TNBBS dengan luas 19.029 ha. jumlah yang tidak sedikit dari jumlah keseluruhan luas resort. banyaknya masyarakat yang berkebun di dalam.kawasan TNBBS kususnya resort Suoh&amp;nbsp; tentunya dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya jumlah lahan marga dengan kawasan TNBBS lebih luas kawasanya,di pengaruhi juga oleh semakin meningkarnya jumlah penduduk dengan tidak dibarengi oleh meningkatnya lahan garapan membuat niat masyarakat untuk merambah hutan makin tinggi. untuk masyarakat yang sudah lama berada di dalam kawasan makin &quot;betah&quot; karena adanya pemungutan PBB membuat merasa &quot;legal&quot; berada di dalam kawasan. &amp;nbsp;Disamping hal itu di resort suoh belum pernah dilakukan operasi penurunan perambah dikarenakan oleh faktor &quot;politik&quot; yang merupakan lumbung suara saat pemilu dan Suoh ini kalo dibilang &quot;anak emasnya &quot; Kabupaten Lampung Barat. berbagai cara dan upaya sudah dilakukan yaitu sosialisasi penyadartahuan, penyuluhan ke sekolah-sekolah sekitar kawasan, penegakan hukum terhadap perambah baru serta rehabilitasi hutan walaupun hanya seluas 1000 ha di daerah Pekon Hantatai namun dirasa upaya tersebut belum begitu efektif. Dalam penanganan perambah di Resort Suoh. Allright we must think hard for this, hmm ternyata Suoh ini memiliki &quot;mutiara terpendam&quot; yaitu potensi wisata yang sangat luar biasa dengan sebutan &quot;surga tersembunyi &quot; dikarenakan letak geografis yang terpencil di lampung. Hamparan padang ilalang yang hijau danau lebar dengan potensi burung burung asli nan indah warna dan kicauanya ada juga danau minyak yang airnya mengandung minyak,danau asam&amp;nbsp; dengan air asam mengandung belerang hangat dengan PH yang normal bagus untuk mengobati penyakit kulit pasir kuning berupa hamparan luas pasir berwarna kuning, serta keramikanendapan sulfur membentuk lantai seperti keramik yang bisa berada berdiri diatasnya plus air terjun eksotis setinggi 85 m bernama curug gading. &amp;nbsp;Begitu amazing dan banyaknya potensi wisata yang pasti membuat baper para wisatawan yang datang kesitu,panteslah dinamakan mutiara terpendam atau surga tersembunyi. lokasi tersebut berada di dalam kawasan TNBBS yang sudah ditetapkan menjadi zona pemanfaatan. hal ini yang sekarang di giatkan oleh Resort Suoh untuk pengelolaan wisata bersama masyarakat sekitar kawasan, ada 2 Pekon / Desa yang secara administrasi pemerintahan berbatasan langsung dengan lokasi tersebut yaitu Pekon Sukamarga dan Gunung Ratu. &amp;nbsp;Hal ini bertujuan untuk mengurangi perambahan yang ada di Resort Suoh, dikarenakan kedua Pekon diatas mayoritas memiliki garapan di dalam kawasan TNBBS tentunya dalam pengelolaan berdasarkan peraturan PP No. 36 Tahun 2010: tentang&amp;nbsp; Pengusahaan Pariwisata Alam di Suaka Margasatwa, Taman Nasional, Taman Hutan Raya &amp;amp; Taman Wisata Alam, Permenhut No. P.48/Menhut-II/2010 sebagaimana diubah dengan P.4/Menhut-II/2012&amp;nbsp; tentang Pengusahaan Pariwisata Alam di Suaka Margasatwa, Taman Nasional, Taman Hutan Raya dan Taman Wisata Alam. tahapan 1 bersama dengan Tim Balai dan Bidang 2 liwa telah melakukan sosialisasi peraturan diatas tahapan ke 2,3,4 masih sosialisasi dan pendampingan kepengurusan administrasi permohonan izin sampai pada saat ini tinggal menunggu izin tersebut terbit, perlu diketahui bahwa izin yang diajukan adalah izin usaha perorangan cukup diajukan ke Balai Besar TNBBS. sembari izin terbit masyarakat dengan swadaya membangun sarana prasarana guna mendukung wisata tersebut. Hasilnya patut disukuri PNBP meningkat, yang pada tahun lalu bulan Agustus September merupakan musim kemarau kita sebagai petugas disibukan dengan kebakaran padang ilalang saat ini tidak terjadi lagi karena masyarakat berkomitmen untuk mencegah dan menanggulangi kebakaran di areal tersebut tidak hanya hal itu masyarakat siap melakukan penanaman sebanyak 1000 batang tanaman asli hutan TNBBS di lahan garapanya dan secara bertahap meninggalkan lahan garapan yang di dalam kawasan TNBBS. &amp;nbsp;Memang masih banyak yang harus diperbaiki baik administrasi maupun tata kelola bangunanya namun setidaknya inilah langkah awal yang harus dilalui agar jargon &quot;hutan lestari masyarakat sejahtera&quot; benar benar terlaksana.</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Wed, 06 Dec 2017 02:38:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:10803</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10743/IN-HOUSE-TRAINING-OPERASIONAL-PENGELOLAAN-OBJEK-WISATA-ALAM-BALAI-BESAR-TNBBS-2017.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=10743</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=10743&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>“IN HOUSE TRAINING OPERASIONAL PENGELOLAAN OBJEK WISATA ALAM” BALAI BESAR TNBBS 2017</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10743/IN-HOUSE-TRAINING-OPERASIONAL-PENGELOLAAN-OBJEK-WISATA-ALAM-BALAI-BESAR-TNBBS-2017.aspx</link> 
    <description>Bandar Lampung&amp;nbsp;&amp;ndash; &amp;nbsp;09 Oktober 2017. Bertempat &amp;nbsp;di Taman Wisata Lembah Hijau &amp;ndash; Bandar Lampung, Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan mengadakan &amp;ldquo;IN HOUSE TRAINING OPERASIONAL PENGELOLAAN OBJEK WISATA ALAM&amp;rdquo; dalam kegitan ini Kepala Balai Besar TNBBS sekaligus&amp;nbsp; melakukan pembinaan pegawai terhadap staf dan pejabat strukturalnya. Kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal 09 Oktober 2017 tersebut dihadiri oleh sekitar 105 pegawai dari kantor Balai, Bidang Wilayah I Semaka dan bidang Wilayah II Liwa. Dalam kegiatan tersebut, &amp;nbsp;Kepala Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan Ir Agus Wahyudiono menyampaikan, &amp;ldquo;Untuk mendapatkan hasil kerja yang baik, maka diperlukan adanya pegawai-pegawai yang setia, taat, jujur, penuh dedikasi, disiplin dan sadar akan tanggung jawab yang dibebankan kepadanya sesuai dengan peraturan perundang-undangan &amp;nbsp;yang berlaku&amp;rdquo;. &amp;nbsp; &amp;nbsp; Fungsi pembinaan diarahkan untuk :&amp;nbsp; &amp;middot;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Memupuk kesetiaan dan ketaatan.&amp;nbsp; &amp;middot;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Meningkatkan adanya rasa pengabdian, tanggung jawab, kesungguhan dalam&amp;nbsp; bekerja dan&amp;nbsp; melaksanakan tugas.&amp;nbsp; &amp;middot;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Meningkatkan gairah dan produktivitas kerja secara optimal.&amp;nbsp; &amp;middot;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Mewujudkan suatu layanan organisasi dan pegawai yang bersih dan berwibawa.&amp;nbsp; &amp;nbsp; Kegiatan pembinaan pegawai lingkup Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan Dalam sambutannya Kepala Balai Juga berpesan kepada seluruh jajaran staf yang hadir agar dapat menjunjung tinggi sportivitas kerja agar kedepan Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan dapat menjadi lebih baik lagi.</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Mon, 06 Nov 2017 05:05:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:10743</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10742/MENGENAL-JENIS-JENIS-BURUNG-NEAR-THREATENED--INTERIOR-HUTAN-DITAMAN-NASIONAL-BUKIT-BARISAN-SELATAN.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=10742</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=10742&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>MENGENAL JENIS-JENIS BURUNG “NEAR THREATENED”   INTERIOR HUTAN DITAMAN NASIONAL BUKIT BARISAN SELATAN</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10742/MENGENAL-JENIS-JENIS-BURUNG-NEAR-THREATENED--INTERIOR-HUTAN-DITAMAN-NASIONAL-BUKIT-BARISAN-SELATAN.aspx</link> 
    <description>Pengantar Terjadinyaperubahan tutupan hutan untuk perkebunan/perladangan maupun keberadaan jalan nasional yang memotong kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan(TNBBS) dapat menimbulkan efek tepi (edge effect).&amp;nbsp; Menurut Murcia (1995:98); Candido (1999;10); McCollin (2006:248) dalam Nuruliawati (2015), Efek tepi merupakan hasil interaksi antara dua ekosistem yang berdampingan yang terjadi karena adanya pemisahan antara kedua habitat tersebut oleh suatu kawasan transisi atau basa disebut dengan kawasan tepi.&amp;nbsp; Efek tepi memberikan terhadap respon terhadap hidupan liar salah satunya adalah respon terhadap burung.&amp;nbsp; Apalagi burung dikenal sensitif terhadap perubahan lingkungan yang menyebabkan burung dijadikan indikator lingkungan.  Berdasarkan hasil penelitian yang berjudul respon burung terhadap efek tepi di kawasan TNBBS yang dilakukan oleh Sdr. Nuruliawati (Mahasiswi Dept Biologi-FMIPA-UI) pada Agustus &amp;ndash; September 2014, diketahui adanya komunitas burung yang memiliki komposisi berbeda di antara kawasan hutan, tepi hutan dan kebun masyarakat.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kawasan tepididominasi oleh jenis frugivora dari suku Pycnonotidae sedangkan kawasaan hutan didominasi oleh jenis insektivora.&amp;nbsp; Sementara itu kawasan kebun didominasi oleh nektarivora, frugivora dan insektivora dari suku yang lebih beragam dibandingkan kawasan tepi dan kawasan hutan. Mengenal burung &amp;ndash; burung interior Burung interior dikenal sebagai burung &amp;ndash; burung yang berada di dalam kawasan hutan.&amp;nbsp; Spesialist interior merupakan kategori untuk jenis organisme yang cenderung menghindari kawasan tepi atau kawasan terfragmentasi (McCollin 2006 : 248 &amp;ndash; 249 dalam Nuruliawati, 2015).&amp;nbsp; Jenis interior adalah spesies yang menempati tempat hanya atau terutama di tempat yang jauh dari perbatasan dengan gangguan (Forman dan Godron, 1986 dalam Anggraini, C.M.D, 2006).&amp;nbsp; Species ini akan menolak habitat tepi, mereka hanya akan terdapat pada bagian interior dari hutan atau habitat lain dan tidak akan terdapat dalam rumpang habitat yang kecil yang hanya mempunyai habitat interior kecil atau bahkan tidak ada sama sekali (Meffe dan Carol, 1994 dalam Anggraini,C.M.D, 2006). &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Berdasarkan hasil penelitian beberapa jenis burung interior yang berstatus hampir terancam (Near Threatened) penghuni kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan adalah : 1.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Macronous ptilosus (Ciung air pongpong / Burung rimbang pongpong)   Deskripsi: Berukuran kecil (15 cm), berwarna gelap, suka mengendap-endap. Bulu coklat merah, topi coklat berangan, tenggorokan hitam, lingkar mata dan kekang biru mencolok. Bulu pada punggung panjang dan bertangkai pucat, sulit terlihat di lapangan. Iris coklat merah, paruh dan kaki kehitaman. Suara: Teriak keras yang sesak, bentuk &amp;ldquo;cer-cer-cer-cerang&amp;rdquo; yang meninggu pada nada terakhir, dan nyanyi dempang rendah: &amp;ldquo;pup-pup pup pup pup&amp;rdquo;. Penyebaran global: Semenanjung Malaysia, Sumatera, dan Kalimantan. Penyebaran local dan status: Di Sumatera (termasuk pulau-pulau di sekitarnya) dan Kalimantan, umum terdapat di hutan dataran rendah sampai ketinggian 700 m. Kebiasaan: Hidup dalam kelompok kecil pada lapisan bawah hutan yang lebat dan pinggir hutan, umumnya di lembah sungai kecil yang lembab. Mudah terpancing oleh suara &amp;ldquo;pstt&amp;rdquo;. 2.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Argusianus argus (Kuau Raja)   Deskripsi: Berukuran sangat besar. Jantan (120 cm): bulu sekunder dan bulu tengah ekor sangat panjang. Bulu sayap dihiasi dengan bintik besar berbentuk mata. Bulu utama umumnya coklat karat dengan bintik kuning kebo dan hitam yang berpola rumit. Tubuh bagian bawah merah karat lebih gelap. Betina: lebih kecil (60 cm), ekor dan bulu sayap lebih pendek, berwarna lebih gelap, tidak ada bintik mata seperti jantan. Keduanya: kulit gundul pada kepala dan leher yang biru, jambul pendek gelap. Iris merah coklat, paruh kuning, kaki merah. Suara: Jantan: meledak-ledak, dengan nada ganda nyaring &amp;ldquo;ku-wau&amp;rdquo;, sering merupakan sahutan terhadap pohon runtuh, suara petir, atau suara jantan lainnya. Suara lain pada kedua jenis kelamin: seri nada &amp;ldquo;wau&amp;rdquo;, dua puluh kali atau lebih, sangat jelas dengan nada sama, mulai dengan nada &amp;ldquo;wau&amp;rdquo; yang turun, berangsur-angsur menjadi nada &amp;ldquo;wau&amp;rdquo; yang naik. Penyebaran global: Malaysia, Sumatera, dan Kalimantan. Penyebaran local dan status: Di Sumatera dan Kalimantan, umum ditemukan di hutan primer 1.200 m. sekarang mulai jarang (hilang di tempat tertentu) karena dijaring dan kerusakan habitat. Catatan terlihatnya Kuau jambul Rheinartia orellata di Sumatera kemungkinan merupakan salah dientifikasi dengan jenis ini. Kebiasaan: Di lantai hutan, jantan mengigal berupa lingkaran, tempat dibuangnya semua daun, anak pohon, dan batu. Bersuara dari tempat mengigal ini pada pagi hari. Dengan gaya merak, memperagakan sayap dan ekor betina yang berkunjung. Tidur di atas pohon pada malam hari. Kadang-kadang berisitrahat dan memanggil dari atas pohon pada siang hari. Catatan: Kuau garis-ganda A. bipunctatus diketahui dari satu helai bulu primer jantan. Dulu diperkirakan berasal dari Jawa walaupun ada beberapa alsan untuk menduga bahwa burung ini berasal dari P.Tioman, lepas pantai timur Malaysia. 3.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Eurylaimus ochromalus(Sempur Hujan Datar)   Deskripsi: Berukuran kecil (15 cm), berwarna-warni. Paruh biru, kepala hitam, ada bintik putih khas. Tubuh bagian atas umumnya hitam, tungging kuning, sayap burik,kuning pada tunggir, terdapat pita hitam melintang pada dada atas (sebagian pada betina), paha hitam. Remaja: berwarna lebih suram, dahi kuning. Iris kuning paruh kebiruan, kaki merah jambu. Suara: Sangat mencolok dan sering terdengar. Suara sangat mirip Sempur-hujan rimba, berupa deretan nada monoton selama kira-kira tujuh detik, tetapi tanpa siulan pendahuluan atau nada akhir yang perlahan menghilang. Suara lainnya yaitu sorak tinggi yang memelas. Penyebaran global: Semenanjung Malaysia, Sumatera, dan Kalimantan. Penyebaran local dan status: Biasa terdapat di hutan primer dan hutan sekunder sampai ketinggian 900 m di Sumatera (termasuk kepulauan di sekitarnya) dan Kalimantan (termasuk Kep. Natuna). Kebiasaan: Memburu serangga dari ternggerana rendah di hutan. Berdiam pada tajuk bawah dan tajuk tengah. 4.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Megalaima mystachophanos (Takur Warna Warni)   Deskripsi: Berukuran sedang (23 cm), berwarna hijau dengan kepala berhiaskan warna merah, kuning, biru, dan hitam. Berbeda dengan takur lain, jantan: dahi kuning, tenggorokan merah, betina: kekang dan mahkota bagian belakang merah, tanpa warna hitam pada kepala. Remaja: seperti betina, tetapi berwarna lebih suram. Iris coklat, paruh hitam, kaki abu-abu. Suara: Serangkaian nada tidak tetap: &amp;ldquo;tok&amp;rdquo; dalam satu sampai empat nada, satu kali per detik. Juga getaran bernada tinggi yang memendek ketika diulang. Penyebaran global: Semenanjung Malaysia, Kep. Tuna, Sumatera, dan Kalimantan. Penyebaran local dan Status: Umum di hutan dataran rendah di bawah ketinggian 800 m, lebih jarang di hutan rawa dan hutan gambut. Kebiasaan: Hidup pada tajuk atas dan tajuk tengah, menyukai hutan primer dan hutan bekas tebangan yang tinggi. 5.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Meiglyptes tukki(Caladi badok) Deskripsi: Berukuran agak kecil (21 cm), berwarna coklat tua dengan bercak kuning tua lebar dank has pada leher dan garis kekuningtuaan pada punggung. Jantan dewasa: setrip malar merah, ada garis kehitaman pada tenggorokan. Burung muda: seperti dewasa, tetapi dengan garis kuning tua yang lebih tebal. Iris merah padam, paruh kehitaman, kaki hijau keabu-abuan.   Suara: Suara berputar: &amp;ldquo;kirr-r-r&amp;rdquo;, dengungan keras bernada tinggi, dan suara bergenderang keras. Penyebaran global: Semenanjung Malaysia, Sumatera (termasuk pulau-pulau di lepas pantai), Natun utara, Bangka, dan Kalimantan. Penyebaran local dan status: Umum terdapat di hutan primer dan hutan sekunder di bawah ketinggian 1.000 m. Kebiasaan: Menyukai lapisan tengah dan bawah di hutan. Kadang-kadang bergabung dengan kelompok burung campuran lain. 6.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Oriolus xanthonotus (Kepudang Hutan)   Deskripsi Sedang (18 cm), berwarna hitam dan kuning. Kepala, leher, dan kerongkongan burung jantan berwarna hitam. Dada keputih-putihan, dengan burik hitam, membedakannya dari Kepudang kuduk-hitam. Bulu terbang hitam; dan bagian lain kuning terang. Bagian atas burung betina dan burung remaja berwarna kehijauan, tungging kuning, dan bagian bawah sisinya putih dengan burik hitam tebal.Iris merah; paruh merah jambu; kaki hitam. Suara Siulan berdering panjang, berulang, dan menurun &amp;ldquo;pii-fiiuuu&amp;rdquo; beralun &amp;ldquo;ti-ti-lu-i&amp;ldquo;, dan suara pekikan. Kicauannya lebih lemah dan kurang melodius dibandingkan dengan kicauan Kepudang kuduk-hitam. Berukuran agak kecil (18 cm), berwarna hitam dan kuning. Jantan: kepala, leher dan kerongkongan hitam. Bulu terbang hitam. Dada keputih-putihan dengan burik hitam. Bagian lain kuning terang. Betina dan burung remaja: tubuh bagian atas kehjauan, tungging kuning, tubuh bagian bawah siasanya putih dengan burik hitam tebal.Iris merah, paruh merah jambu kaki hitam. Terdapat di Filipina, Semenanjung Malaysia dan Sunda Besar. Di Bali tidak tercatat. 7.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Rhinoplax vigil (Rangkong Papan) Deskripsi    Burung enggang gading disebut demikian karena di antara ekornya yang panjang terselip semacam dua tangkai gading dengan panjang sekitar 50 sentimeter. Buceros vigil, demikian nama Latin burung berukuran besar ini. Enggang gading memang termasuk raksasanya burung yang bisa terbang. Dalam identifikasi ukuran, rata-rata panjang tubuhnya antara 60 &amp;ndash; 160 cm, ditambah dengan ekor 50 sentimeter Walau besar, enggang punya bobot tubuh yang ringan antara 100 gram &amp;ndash; 8 kg. Umumnya burung jantan memiliki ukuran tubuh lebih besar dari burung betina. Jenis kelamin Enggang yang telah dewasa dapat diketahui berdasarkan perbedaan warna balung atau cula, warna sayap, paruh dan mata. burung ini cukup menarik perhatian para kolektor burung unik. Diantara enggang/burung rangkong, enggang gading adalah yang terbesar ukurannya, kepalanya dan paruhnya besar, tebal dan kokoh dengan tanduk yang menutup bagian dahinya. Orang mancanegara menyebutnya &amp;rdquo;helmeted hornbill&amp;rsquo; atau &amp;rdquo;ivory hornbill&amp;rdquo; karena memang kekhasannya adalah bagian atas kepalanya yang dilingkupi kulit mirip helm. &amp;rdquo;Helm&amp;rdquo; ini berwarna merah menyala sampai ke bagian leher, menyerupai jengger ayam. Pola warna bulu-bulunya biasanya varian hitam dan coklat tua ( Bulu berwarna coklat, hitam, putih, atau hitam dan putih). Itu pun masih dihias pola lurik atau garis putih, kuning, atau krem pada bulu di area tubuh bawah, sayap, dan ekor. Enggang betina memiliki warna bulu lebih unik lagi, yakni biru sampai biru pucat. Paruh berwarna merah atau kuning, sangat besar dan melengkung dan sebagian besar burung ini mempunyai cula. Kulit dan bulu di sekitar tenggorokan berwarna terang. Sayap kuat, ekor panjang, kaki pendek, jari-jari kaki besar dan S indaktil (Departemen Kehutanan, 1993). Secara morfologi, burung Enggang Gading khas Kalbar jauh lebih cantik dan indah ketimbang Enggang di region lain bumi Kalimantan. Ekor Enggang Gading panjang dan berwarna hitam-putih. Cula atau tanduk di kepala Enggang Gading juga lebih kecil sehingga tidak &amp;ldquo;besar pasak dari pada tiang&amp;rdquo;. Artinya proporsional. (Sinarharapan. 2002) Makanan, prilaku dan suara Enggang gading bukanlah burung &amp;ldquo;vegetarian&amp;rdquo; (herbivora). Ia suka menyantap berbagai menu. Dalam daftar makanan hariannya terdiri dari aneka buah (terutama buah beringin/ara dan palem), serangga, reptil dan burung kecil bahkan tupai. Walau bukan pemburu jempolan, Enggang cukup mahir mengejar mangsanya. Buah memang favorit, namun daging ular, kadal, bahkan hewan pengerat akan dilahap . Ada satu yang unik dalam &amp;ldquo;pertempuran&amp;rdquo; Enggang gading dengan ular. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa saat memangsa ular berbisa, Enggang cukup hati-hati. Kemampuan memangsa ini dikembangkannya menjadi teknik makan yang unik. Saat mematuk ular berbisa, ia menempatkan kepala ular di dekat ujug paruhnya. Ini untuk menjauhkan patukan ular ke kepala atau bagian tubuh lainnya. Setelah menempatkan mangsa sedemikian rupa, ia akan mulai melakukan putaran paruh agar bagian atas ular berada di bawah (terbalik). Lantas dengan perhitungan dan kehati-hatian, ia mematuki kepala dan tubuh ular sampai hancur dan daging segar pun segera dilahap.  Perilaku Unik Enggang Gading suka bersarang di lubang-lubang pohon besar. Namun berbeda dengan kebanyakan burung lainnya, dalam masa mengerami, betina akan mengurung diri selama masa mengerami dan jantan akan setia melayani istrinya, karena enggang dikenal sebagai burung yang setia pada pasangan (monogami). Saat musim bertelur, betina akan bertelur di lubang-lubang pohon sebagai sarang. Biasanya ia akan menempatkan 1 &amp;ndash; 5 telur dalam satu kali musim bertelur. Setelah semua telur ditempatkan sedemikian rupa, maka betina akan menutup lubang pohon dengan lumpur dan meterial lain. Ia kemudian mengurung diri di lubang gelap yang sempit sambil mengerami telurnya. Jantan akan membantu menutup lubang dengan membiarkan sedikit celah sempit. Celah ini digunakan jantan untuk menyuplai makanan bagi betinanya. Pada beberapa spesiesnya, &amp;ldquo;beton&amp;rdquo; penutup lubang akan dibiarkan tertutup selama 100 hari (&amp;plusmn; 3 bulan). Setelah masa mengerami selesai dan anakan enggang telah lahir, betina bersama bayi-bayinya akan memecah tembok pelindung itu dan terbang keluar. Karena sistem perlindungan seperti ini, sarang-sarang Enggang cenderung terlindungi dari kemungkinan serangan predator dan hewan &amp;ldquo;pemburu&amp;rdquo; telur. Suara Suara enggang gading cukup keras/lantang dan bergema jauh saat musim kawin tiba. Mereka juga senang berkomunikasi antar satu kelompok dengan kelompok lain dari habitat yang berbeda dengan mengeluarkan suara melengking tinggi. A series of identical, loud, hollow took notes, gaining in speed before drawing to an amazing climax of maniacal laughter, tee poop notes. (Forestry, Sarawak, Goverment. 2008) Habitat Burung enggang gading menyukai habitat hutan yang lebat dengan banyak pohon buah-buahan. Burung enggang gading bertengger di pohon yang tinggi ( upper canopy) dengan ketinggian &amp;plusmn;1500 mdl. Burung enggang juga dapat hidup rukun dengan primata di sebuah pohon yang berbuah. (Forestry, Sarawak, Goverment. 2008) Persebaran Burung Enggang Gading persebarannya di hutan hujan tropis di Kalimantan dan Sumatra serta Malaya Peninsula. (Forestry, Sarawak, Goverment. 2008). Ancaman kelestarian burung &amp;ndash; burung interior Kelestarian burung interior di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan diakibatkan oleh dua hal yakni berkurangnya habitat dan perburuan.&amp;nbsp; Perubahan tutupan hutan di kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan yang utamanya akibat perkebunan kopi berdampak pada hilangnya jenis-jenis burung interior hutan sepertikuau, luntur, pergam, sempur dan jenis-jenis lain interior lainnya.&amp;nbsp; Selain hilangnya habitat, kelestarian burung interior khususnya rangkong diakibatkan oleh perburuan.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Perburuan rangkong di TNBBS berdasarkan hasil keterangan petugas yang melakukan patroli terjadi pada beberapa lokasi.&amp;nbsp; Perburuan rangkong maupun tanda-tanda perburuan diketahui terjadi di daerahSukaraja, Suoh dan Makakau.&amp;nbsp; Padahal burung rangkong dikenal sebagai petani hutan yang artinya membantu proses regenerasi hutan melalui biji-biji tumbuhan yang dimakan dan biji yang tidak hancur dikeluarkan kembali melalui kotorannya.</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Mon, 06 Nov 2017 05:03:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:10742</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10741/EVALUASI-PROGRAM-GEF-UNDP-KUNJUNGI-TNBBS.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=10741</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=10741&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>EVALUASI PROGRAM, GEF – UNDP KUNJUNGI TNBBS</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10741/EVALUASI-PROGRAM-GEF-UNDP-KUNJUNGI-TNBBS.aspx</link> 
    <description>  Kotaagung, 22 Oktober 2017. Regional Technical Advisor (RTA) GEF-UNDP, PIU UNDP, PMU UNDP, Subdit KSDAE, dan Biro Kerjasama Luar Negeri-KLHK mengunjungi Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, 20 &amp;ndash; 22 &amp;nbsp;Oktober 2017. Kunjungan ini bertujuan untuk mengetahui dan memberi feedback, evaluasi, atau masukan atas implementasi program GEF-UNDP yang berlangsung di TNBBS. Kegiatan kunjungan meliputi kegiatan pemaparan dan juga kunjungan lapangan ke beberapa site terkait program GEF-UNDP di TNBBS.   Tim GEF &amp;ndash; UNDP beserta rombongan diterima oleh Kepala Balai Besar TNBBS Ir. Agus Wahyudiono di Kantor Balai Besar TNBBS Kotaagung pada hari Jumat 20 Oktober 2017. Kemudian, dilakukan paparan mengenai tantangan pengelolaan kawasan TNBBS yang sedang dihadapi saat ini oleh Kepala Bidang Teknis Konservasi Balai Besar TNBBS Ismanto, S.Hut,MP. Acara dilanjutkan dengan kunjungan ke kantor WCS-IP Kotaagung. Firdaus Affandi (WCS-IP) Southern Sumatra Landscape Manager) dan Patih (WCS-IP Southern Sumatra Wildlife Crime UnitOfficer) melakukan paparan mengenai kemajuan implementasi program GEF-UNDP di TNBBS yang telah dilaksanakan oleh WCS-IP, diantaranya meliputi program RBM, patroli berbasis SMART, mitigasi konflik satwa liar, monitoring harimau sumatra, dan penegakan hukum terkait kasus kejahatan satwa liar. Pada tanggal 21-22 Oktober 2017, rombongan melakukan kunjungan lapangan ke beberapa site dengan didampingi oleh perwakilan TNBBS dan WCS-IP. Kunjungan lapangan pertama dilakukan ke Stasiun Penelitian Way Canguk. Dalam kegiatan kunjungan lapangan ini dilakukan pemaparan tentang kegiatan riset dan monitoring di Way Canguk, peninjauan langsung kegiatan riset dan monitoring yang dilakukan adalah cek sarang rangkong, siamang, dan arena kuau (argus dancing ground). Kunjungan lapangan kedua dilakukan ke Rhino Camp RPU-YABI. Tim dari RPU-YABI melakukan pemaparan profil kegiatan perlindungan badak sumatera di TNBBS. Kunjungan terakhir dilakukan ke salah satu desa dampingan mitigasi konflik satwa liar, yaitu Desa Margo Mulyo. Kunjunganini bertujuan untuk melakukan peninjauan langsung terhadap kandang anti serangan harimau (Tiger Proof Enclosure/TPE). Pihak GEF &amp;ndash; UNDP melalui Regional Technical&amp;nbsp; Advisor (RTA) menyatakan kunjungan lapang ini sangat positif dan bermanfaat dalam membagi informasi upaya konservasi dari tingkat lapang dan pengelola,&amp;nbsp; dan berharap agar kedepannya, program kerjasama yang telah berlangsung di TNBBS dapat berjalan dengan baik dan lancar.&amp;nbsp;</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Mon, 06 Nov 2017 05:01:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:10741</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10740/WORKSHOP-PENGEMBANGAN-KEMITRAAN-PEMANFAATAN-GETAH-DAMAR-MATA-KUCING-PADA-ZONA-TRADISIONAL-TNBBS.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=10740</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=10740&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>WORKSHOP PENGEMBANGAN KEMITRAAN PEMANFAATAN GETAH DAMAR MATA KUCING PADA ZONA TRADISIONAL TNBBS</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10740/WORKSHOP-PENGEMBANGAN-KEMITRAAN-PEMANFAATAN-GETAH-DAMAR-MATA-KUCING-PADA-ZONA-TRADISIONAL-TNBBS.aspx</link> 
    <description>Liwa, 18 Oktober 2017. Balai Besar TNBBS menyelenggarakan Workshop Pengembangan Kemitraan Pemanfaatan Getah Damar Mata Kucing Pada Zona Tradisional TNBBS, Rabu 18 Oktober 2017. Kegiatan diselenggarakan di Kantor Bidang Pengeloaan Taman Nasional (BPTN) II Liwa. Kepala BPTN II Liwa Amri, SH.,M.Hum mewakili Kepala Balai Besar TNBBS membuka acara workshop, menyampaikan bahwa kelestarian TNBBS sebagai kawasan konservasi merupakan tanggung jawab bersama. &amp;ldquo;Masyarakat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam pengelolaan kawasan TNBBS. Dalam kaitannya dengan zona tradisional, merupakan zona yang dialokasikan untuk mengakomodir aktifitas tradisional pemanfaatan hasil hutan bukan kayu, seperti hal nya getah damar. Perlunya pemahaman masyarakat bahwa dalam pemanfaatan getah damar mata kucing, harus mengacu pada peraturan yang berlaku agar aktifitas menjadi legal&amp;rdquo;, papar Amri. Kegiatan workshop ini menghadirkan berbagai Narasumber, antara lain : -&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kepala Seksi Bina Pemanfaatan Zona Tradisional Direktorat PIKA, memaparkan materi tentang Kebijakan dan Peraturan dalam Pemanfaatan Zona Tradisional; -&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Subdit Pemanfaatan Kawasan Strategis, memaparkan materi tentang Kerjasama dalam penguatan fungsi Kawasan KSA dan KPA; -&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Plh. Kepala Bidang Perencanaan Bappeda Kabupaten Lampung Barat, memaparkan materi tentang Peran Perencanaan Daerah Dalam Mendukung Pemberdayaan Masyarakat Sekitar Hutan, terkait Target Prioritas Nasional Pengembangan Wilayah; -&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kepala Sub Bagian Program dan Kerjasama Balai Besar TNBBS, memaparkan materi tentang Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) di Zona Tradisional TNBBS sebagai Role Model. &amp;nbsp; Acara ini diikuti oleh : Camat Way Krui; Camat Karya Punggawa; Unila Pili; WWF BBS Project; serta masyarakat sekitar kawasan TNBBS yang akan mengajukan izin pemanfaatan getah damar di zona tradisional TNBBS, yang tergabung dalam Kelompok Tani Hutan (KTH) Mandapalu dan KTH Damar Indah Jaya. &amp;ldquo;Pemanfaatan HHBK di zona tradisional TNBBS merupakan salah satu Role Model Balai Besar TNBBS, dari 4 Role Model yang telah disahkan oleh Bapak Dirjen KSDAE di Jakarta tanggal 27 September 2017 lalu. Dengan adanya izin pemanfaatan ini, diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat&amp;rdquo;, kata Kasubbag Program dan Kerjasama Balai Besar TNBBS Siti Muksidah, S.Hut.,M.Sc. Dalam kegiatan ini juga dibahas mengenai penyusunan Perjanjian Kerjasama antara Balai Besar TNBBS dengan KTH Damar Indah Jaya. Substansi Perjanjian Kerjasama, Rencana Pelaksanaan Program dan Rencana Kerja Tahunan telah disepakati oleh Ketua KTH Damar Indah Jaya. &amp;ldquo;Masyarakat akan memberikan umpan balik kepada TNBBS dengan skema inkind, yang diwujudkan antara lain melalui kegiatan pemulihan ekosistem secara mandiri, berperan dalam menurunkan konflik dan gangguan terhadap kawasan, dan ikut berperan dalam kegiatan pengendalian kebakaran hutan. Saat ini, untuk penandatanganan Perjanjian Kerjasama, RPP dan RKT masih menunggu terbitnya surat persetujuan dari Dirjen KSDAE&amp;rdquo;, tambah Siti. &amp;nbsp; Hutan untuk kemakmuran rakyat, menuju pemanfaatan hutan secara arif dan bijaksana&amp;hellip; (KEHUMASAN BBTNBBS, Oktober 2017).</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Mon, 06 Nov 2017 04:59:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:10740</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10739/8-KELOMPOK-TERIMA-IZIN-PEMANFAATAN-AIR-DARI-TNBBS.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=10739</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=10739&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>8 KELOMPOK TERIMA IZIN PEMANFAATAN AIR DARI TNBBS</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10739/8-KELOMPOK-TERIMA-IZIN-PEMANFAATAN-AIR-DARI-TNBBS.aspx</link> 
    <description>Air Hitam, 19 Oktober 2017. Bertempat di Balai Pekon Sumber Alam Kecamatan Air Hitam Kabupaten Lampung Barat, Kepala BPTN II Liwa Amri, SH.,M.Hum menyerahkan 8 izin pemanfaatan air kepada perwakilan 8 kelompok masyarakat, 19 Oktober 2017. Turut hadir dalam acara ini antara lain Camat Air Hitam, Peratin (Kepala Desa) Sumber Alam, Sekdes Suka Damai, Kepala SPTN III Krui dan Kepala SPTN IV Bintuhan.  Izin Pemanfaatan Air Non Komersil tersebut diberikan pada 8 Kelompok Masyarakat, dengan rincian sebanyak 5 Kelompok dari Pekon (Desa) Sumber Alam Kecamatan Air Hitam dengan jumlah anggota sebanyak 170 KK; sebanyak 3 Kelompok dari Pekon Suka Damai Kecamatan Air Hitam dengan jumlah anggota 90 KK. Sebelumnya, Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) telah memberikan izin pemanfaatan air non komersil pada 1 Kelompok dari Pekon Manggarai Kecamatan Air Hitam yang beranggotakan sebanyak 76 KK, dan 5 Kelompok Masyarakat di Pekon Tiga Jaya Kecamatan Sekincau Kabupaten Lampung Barat. Kepala BPTN II Liwa Amri, SH.,M.Hum mengatakan air merupakan salah satu potensi yang ada di kawasan TNBBS, yang bisa dimanfaatkan masyarakat untuk menunjang kehidupan sehari &amp;ndash; hari baik untuk kebutuhan air bersih maupun energi, yang dapat digunakan sebagai pembangkit listrik rumah tangga. &amp;ldquo;Sebagaimana diketahui bersama, bahwa berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan nomor P.64 tahun 2013 tentang pemanfaatan air dan energi air di Suaka Margasatwa dan Taman Nasional, bahwa kegiatan pemanfaatan air dan energi di TNBBS baik yang komersil maupun non komersil harus ada izin pemanfaatan airnya dari Kementerian LHK. Untuk yang non komersil, izin dapat diberikan oleh Balai Besar TNBBS&amp;rdquo;, ujar Amri. Pemberian izin pemanfaatan air non komersil pada kelompok masyarakat sekitar kawasan hutan TNBBS merupakan rangkaian / tahapan kegiatan yang dilakukan oleh Balai Besar TNBBS. Sebelumnya, petugas lapangan Balai Besar TNBBS melakukan pembinaan terhadap masyarakat dan melakukan sosialisasi, terkait pemanfaatan air non komersil oleh masyarakat. &amp;ldquo;Dengan diterimanya izin pemanfaatan air tersebut, kelompok berkomitmen untuk melakukan restorasi secara swadaya di sekitar areal pemanfaatan air dengan jenis tanaman endemik TNBBS, yaitu : bambu; medang; aren; kemiri; meranti dan pule. Luas yang akan direstorasi tersebut direncanakan sekitar 5 Ha/tahun pada masing &amp;ndash; masing Pekon&amp;rdquo;, kata Adhi Masturiatna, S.Hut yang merupakan Penyuluh Kehutanan pada BPTN II Liwa. &amp;nbsp; Kawasan TNBBS sebagai perlindungan tata air lingkungan untuk masyarakat&amp;hellip; &amp;nbsp;(KEHUMASAN BBTNBBS, Oktober 2017).</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Mon, 06 Nov 2017 04:57:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:10739</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10737/KAMI-CINTA-NKRI-DAN-PEDULI-KONSERVASI-KEHATI-AGAR-BADAK-TETAP-LESTARI.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=10737</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=10737&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>KAMI CINTA NKRI DAN PEDULI KONSERVASI KEHATI AGAR BADAK TETAP LESTARI</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10737/KAMI-CINTA-NKRI-DAN-PEDULI-KONSERVASI-KEHATI-AGAR-BADAK-TETAP-LESTARI.aspx</link> 
    <description>  Sukaraja, 24 September 2017. Pada tanggal 23 September 2017, berselang satu hari dari peringatan Hari Badak Sedunia yang jatuh setiap tanggal 22 September 2017, dilaksanakan kegiatan Pelantikan Purna Tugas Paskibraka Indonesia Kabupaten Tanggamus tahun 2017. Kegiatan ini dilaksanakan di Bumi Perkemahan Sukaraja Resort Sukaraja Atas SPTN I Sukaraja Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), tanggal 23 &amp;ndash; 24 September 2017.&amp;nbsp;Peserta yang berjumlah 71 orang, terdiri dari peserta pelantikan Purna Paskibraka Indonesia (PPI) Kabupaten Tanggamus (32 orang); Pengurus Paskibra Kecamatan Semaka Kabupaten Tanggamus (22 orang); Panitia serta Petugas Resort Sukaraja Atas (17 orang). Dalam kegiatan pelantikan ini disampaikan materi mengenai Tata Organisasi, Kepemimpinan serta Program Konservasi TNBBS. Untuk memupuk rasa kepedulian terhadap alam dan konservasi TNBBS, para peserta melaksanakan kegiatan penanaman bibit pohon jenis Kuyung/Damar Batu di lingkungan Bumi Perkemahan Sukaraja. Riyanto, S.Hut Penyuluh Kehutanan TNBBS menyampaikan, sehubungan dengan &amp;nbsp;waktu pelaksanaan kegiatan yang berdekatan dengan Hari Badak Sedunia, maka materi Program Konservasi TNBBS lebih menekankan pada Kelestarian Badak Sumatera di TNBBS. &amp;ldquo;Badak merupakan salah satu satwa kunci yang ada di TNBBS selain Harimau Sumatera dan Gajah Sumatera. TNBBS berkewajiban menjaga kelestarian Badak Sumatera dengan target pertambahan populasi minimal 2 % setiap tahunnya. Dengan cara mengkampanyekan program konservasi Badak Sumatera di lingkungan sekolah dan masyarakat, dapat menggugah rasa kepedulian akan kelestarian Badak Sumatera pada mereka. Apalagi pada kegiatan ini, yang berpartisipasi merupakan generasi muda penerus bangsa serta agen perubahan dalam masyarakat&amp;rdquo;, kata Riyanto yang akrab disapa Masri. &amp;ldquo;Banyak upaya yang telah dilakukan oleh penggiat konservasi Badak Sumatera untuk memeriahkan Hari Badak Sedunia yang dirayakan tanggal 22 September setiap tahunnya, kami di TNBBS berupaya ikut memeriahkan Hari Badak ini dengan melakukan penyadar tahuan tentang Konservasi Badak Sumatera di tempat ini. Semoga dengan upaya yang sederhana ini dan disertai hati yang tulus, dapat menimbulkan rasa memiliki pada masyarakat terhadap Badak Sumatera, khususnya di TNBBS. Sehingga masyarakat tidak lagi mengatakan Badak TNBBS, tetapi Badak Kita Bersama&amp;rdquo;, tambah Masri.</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Mon, 06 Nov 2017 04:55:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:10737</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10738/KAMI-CINTA-NKRI-DAN-PEDULI-KONSERVASI-KEHATI-AGAR-BADAK-TETAP-LESTARI.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=10738</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=10738&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>KAMI CINTA NKRI DAN PEDULI KONSERVASI KEHATI AGAR BADAK TETAP LESTARI</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10738/KAMI-CINTA-NKRI-DAN-PEDULI-KONSERVASI-KEHATI-AGAR-BADAK-TETAP-LESTARI.aspx</link> 
    <description>  Sukaraja, 24 September 2017. Pada tanggal 23 September 2017, berselang satu hari dari peringatan Hari Badak Sedunia yang jatuh setiap tanggal 22 September 2017, dilaksanakan kegiatan Pelantikan Purna Tugas Paskibraka Indonesia Kabupaten Tanggamus tahun 2017. Kegiatan ini dilaksanakan di Bumi Perkemahan Sukaraja Resort Sukaraja Atas SPTN I Sukaraja Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), tanggal 23 &amp;ndash; 24 September 2017.&amp;nbsp;Peserta yang berjumlah 71 orang, terdiri dari peserta pelantikan Purna Paskibraka Indonesia (PPI) Kabupaten Tanggamus (32 orang); Pengurus Paskibra Kecamatan Semaka Kabupaten Tanggamus (22 orang); Panitia serta Petugas Resort Sukaraja Atas (17 orang). Dalam kegiatan pelantikan ini disampaikan materi mengenai Tata Organisasi, Kepemimpinan serta Program Konservasi TNBBS. Untuk memupuk rasa kepedulian terhadap alam dan konservasi TNBBS, para peserta melaksanakan kegiatan penanaman bibit pohon jenis Kuyung/Damar Batu di lingkungan Bumi Perkemahan Sukaraja. Riyanto, S.Hut Penyuluh Kehutanan TNBBS menyampaikan, sehubungan dengan &amp;nbsp;waktu pelaksanaan kegiatan yang berdekatan dengan Hari Badak Sedunia, maka materi Program Konservasi TNBBS lebih menekankan pada Kelestarian Badak Sumatera di TNBBS. &amp;ldquo;Badak merupakan salah satu satwa kunci yang ada di TNBBS selain Harimau Sumatera dan Gajah Sumatera. TNBBS berkewajiban menjaga kelestarian Badak Sumatera dengan target pertambahan populasi minimal 2 % setiap tahunnya. Dengan cara mengkampanyekan program konservasi Badak Sumatera di lingkungan sekolah dan masyarakat, dapat menggugah rasa kepedulian akan kelestarian Badak Sumatera pada mereka. Apalagi pada kegiatan ini, yang berpartisipasi merupakan generasi muda penerus bangsa serta agen perubahan dalam masyarakat&amp;rdquo;, kata Riyanto yang akrab disapa Masri. &amp;ldquo;Banyak upaya yang telah dilakukan oleh penggiat konservasi Badak Sumatera untuk memeriahkan Hari Badak Sedunia yang dirayakan tanggal 22 September setiap tahunnya, kami di TNBBS berupaya ikut memeriahkan Hari Badak ini dengan melakukan penyadar tahuan tentang Konservasi Badak Sumatera di tempat ini. Semoga dengan upaya yang sederhana ini dan disertai hati yang tulus, dapat menimbulkan rasa memiliki pada masyarakat terhadap Badak Sumatera, khususnya di TNBBS. Sehingga masyarakat tidak lagi mengatakan Badak TNBBS, tetapi Badak Kita Bersama&amp;rdquo;, tambah Masri.</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Mon, 06 Nov 2017 04:55:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:10738</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10736/Setelah-Taman-Negara-Malaysia-Taman-Nasional-Bogani-Nani-Martabone-Studi-Banding-RBM-TNBBS.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=10736</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=10736&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>Setelah Taman Negara Malaysia,  Taman Nasional Bogani Nani Martabone Studi Banding RBM TNBBS</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10736/Setelah-Taman-Negara-Malaysia-Taman-Nasional-Bogani-Nani-Martabone-Studi-Banding-RBM-TNBBS.aspx</link> 
    <description>Kotaagung, 28 September 2017. &amp;ldquo;Bulan Agustus lalu, kita kedatangan tamu dari Negara Malaysia, tepatnya dari Taman Negara Pahang dan Taman Negara Ramsar. Pada Bulan September ini, kita kembali kedatangan tamu dari Taman Nasional Bogani Nani Wartabone. Keduanya datang dengan tujuan yang sama, yakni mempelajari SMART Patrol yang telah dilaksanakan di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Hal ini merupakan suatu hal yang membanggakan bagi kita (Balai Besar TNBBS red.), tetapi juga merupakan beban yang kita terima, karena kita dinilai oleh pihak luar telah baik dalam pelaksanaan SMART Patrol dalam mendukung RBM. Semoga hal ini dapat membuat kita semakin terpacu untuk berbuat lebih baik lagi, khususnya dalam pelaksanaan SMART Patrol mendukung RBM di TNBBS&amp;rsquo;, Ujar Kepala Bagian Tata Usaha Balai Besar TNBBS Wasja, SH setelah melepas Tim TNBNW di Kantor Balai Besar TNBBS Kotaagung. Sebagai salah satu taman nasional dengan proses implementasi SMART-RBM yang sudah berjalan dengan relative &amp;nbsp;baik, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) menjadi salah satu contoh taman nasional tujuan studi banding dari UPT-UPT terkait, salah satunya adalah Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW). Studi banding TNBNW ke TNBBS ini bertujuan untuk mengetahui proses dan implementasi sistem SMART-RBM di TNBBS. WCS-IP selaku mitra TNBBS yang mendukung pelaksanaan sistem SMART-RBM di TNBBS dilibatkan untuk pendampingan dalam pelaksanaan studi banding kali ini. Pendampingan tersebut berupa pengambilan data patroli di tingkat resort dan pelatihan operator SMART. Studi banding yang dilaksanakan oleh TNBNW berlangsung pada tanggal 22-28 September 2017. Kegiatan studi banding dibagi menjadi dua tahapan, yaitu pengambilan data patroli di tingkat resort dan pelatihan operator SMART. Peserta studi banding meliputi pihak-pihak terkait dari TNBNW (tim lapangan, operator SMART, dsb) dan juga mitra TNBNW, yaitu E-PASS dan WCS-IP Sulawesi Program. Peserta studi banding berjumlah + 30 orang. Tahapan pelatihan pengambilan data lapangan patroli di tingkat resort dilaksanakan oleh tim lapangan TNBNW, didampingi oleh tim patroli SMART TNBBS dan WCS-IP. Pelatihan ini dilaksanakan selama tiga hari di wilayah Resort Sukaraja, SPTN wilayah I Semaka. Dalam pelaksanaan studi banding patroli kali ini, peserta terlihat sangat antusias. Hal ini terbukti dengan begitu semangatnya peserta dalam mengamati dan mencatat temuan-temuan selama patroli, serta diskusi tentang kondisi TNBBS saat ini. Setelah data lapangan diperoleh, tahapan kegiatan selanjutnya adalah pelatihan operator SMART. Tahapan ini diikuti oleh seluruh peserta dari TNBNW dan mitra TNBNW (E-PASS dan WCS-IP Sulawesi Program). Pelatihan operator SMART didampingi oleh SMART Database Officer WCS-IP BBS (Aan Apriyanto) dan SMART Coordinator WCS-IP BBS (Ari Sutopo) di kantor BPTN Wilayah I Sukaraja. Meskipun hanya dapat dilaksanakan dalam waktu singkat, kegiatan pelatihan operator SMART berjalan dengan baik dan lancar. Kegiatan studi banding diakhiri dengan presentasi hasil dari rekan-rekan TNBNW di kantor Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Rekan-rekan dari TNBNW mempresentasikan hasil studi banding yang telah dilakukan, baik saat pengambilan data patroli di lapangan maupun saat proses input data dan pelatihan operator SMART. Acara studi banding ditutup dengan penyerahan kenang-kenangan dari TNBBS dan buku RBM di resort IPZ TNBBS.  &amp;nbsp; Experience is a good teacher. Sharring knowledge to be SMART for better wildlife management&amp;hellip; &amp;nbsp;(KEHUMASAN BBTNBBS, September 2017).</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Mon, 06 Nov 2017 04:51:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:10736</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10615/Empat-Role-Model-Balai-Besar-TNBBS-Disahkan-Dirjen-KSDAE.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=10615</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=10615&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>Empat Role Model Balai Besar TNBBS Disahkan Dirjen KSDAE</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10615/Empat-Role-Model-Balai-Besar-TNBBS-Disahkan-Dirjen-KSDAE.aspx</link> 
    <description>  Jakarta 27 September 2017. Bersamaan dengan diselenggarakannya Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis) Bidang KSDAE tahun 2017 di Royal Kuningan Hotel Jakarta, Dirjen KSDAE Ir. Wiratno M.Sc menandatangani 4 Role Model Balai Besar TNBBS. Kegiatan Rakornis Bidang KSDAE tahun 2017 dilaksanakan tanggal 26 &amp;ndash; 28 September 2017. Pada kesempatan ini, Dirjen KSDAE kembali menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam pelaksanaan role model serta koordinasi pada tingkat Pemerintah Daerah Setempat. &amp;ldquo; Role Model Balai Besar TNBBS telah ditetapkan, dan kita berkomitmen untuk melaksanakannya sesuai dengan arahan Bapak Dirjen KSDAE. Kegiatan ini akan dilaksanakan di tahun 2018, saya menghimbau agar seluruh jajaran Balai Besar TNBBS ikut berperan dalam mengsukseskan program ini sesuai dengan porsinya. Dukungan dan peran serta para mitra kerja TNBBS akan kita optimalkan, dengan mencermati program kerja mitra di tahun 2018 yang tertuang dalam RKT masing &amp;ndash; masing mitra&amp;rdquo;, ujar Kepala Balai Besar TNBBS Ir. Agus Wahyudiyono. Role Model pengelolaan kawasan konservasi adalah suatu bagian pengelolaan kawasan konservasi yang dilaksanakan secara terencana, partisipatif, implementatif dan terukur, dibatasi waktu, yang prosesnya sampai kepada hasil capaiannya dapat menjadi contoh/referensi UPT lain lingkup Ditjen KSDAE dalam pengelolaan kawasan konservasi. Keempat Role Model Balai Besar TNBBS yang akan dilaksanakan adalah : 1.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pengembangan Ekowisata Berbasis Masyarakat (Community Based Ecotourism) Di Resort Suoh, SPTN III Krui, BPTN II Liwa; 2.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;ldquo;Intensive Searching Rescue&amp;rdquo; Badak Sumatera Yang Terdesak (Domed) Di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan Secara Kolaboratif Dan Sistematis; 3.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pengembangan Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (Damar Mata Kucing) Di Zona Pemanfaatan Tradisional Oleh Masyarakat Berbasis Multi Pihak (Stakeholders Collaboration) Di Resort Balai Kencana, SPTN Wilayah III Krui, BPTN Wilayah II Liwa; 4.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pemulihan Ekosistem Berbasis Masyarakat (Community Based Restoration Program) Di Resort Ulu Belu Dan Suoh. &amp;nbsp; Pada Rakornis Bidang KSDAE tahun 2017 ini juga ditekankan pentingnya setiap UPT untuk memiliki Situation Room, yang merupakan kumpulan sumber data dan informasi yang terintegrasi dengan fasilitas teknologi informasi dan komunikasi mutakhir. &amp;ldquo;Kebenaran data dan informasi yang ada pada Situation Room, akan dijadikan pertimbangan Kepala Balai dalam mengambil keputusan dan mencari solusi permasalahan di lapangan. Data yang Saudara sampaikan benar &amp;ndash; benar merupakan data yang diambil dengan turun ke lapangan, bukan berdasarkan perkiraan di atas meja&amp;rdquo;, kata Dirjen KSDAE Ir. Wiratno, M.Sc disaat memberikan arahan di depan para Wali Data UPT lingkup Ditjen KSDAE. &amp;nbsp; Data dan Informasi yang akurat dapat menuntun pada pengambilan keputusan yang tepat&amp;hellip; &amp;nbsp;(KEHUMASAN BBTNBBS, September 2017).</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Thu, 19 Oct 2017 06:39:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:10615</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10608/Ayo-beraksi-untuk-badak.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=10608</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=10608&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>Ayo beraksi untuk badak</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10608/Ayo-beraksi-untuk-badak.aspx</link> 
    <description>Hari badak sedunia yang diperingati setiap tanggal 22 September bertujuan untuk mengingatkan kepada kita bahwa saat ini terdapat 5 spesies badak di dunia yang perlu penanganan secara serius untuk mencegah dari kepunahan. Dua di antara spesies badak tersebut ada di Indonesia, yaitu badak sumatera dan badak jawa. Rhino Protection Unit Bukit Barisan Selatan (RPU BBS) sebagai mitra strategis Balai Besar Taman Nasonal Bukit Barisan Selatan (BBTNBBS) bekerjasama dengan Himpunan Mahasiswa Jurusan Biologi Universitas Lampung mengadakan perayaan hari badak sedunia pada tanggal 24 September 2017 di Tugu Adipura Bandar Lampung dengan acara antara lain long march, kuis dengan pertanyaan tentang konservasi badak dan pembagian gantungan kunci serta sticker badak. Tujuan diadakannya kegiatan tersebut adalah untuk mengedukasi dan mensosialisasikan kepada masyarakat Lampung mengenai pentingnya konservasi badak sumatera terutama yang ada di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.  Menjawab pertanyaan NATURA; media kampus mahasiswa jurusan Biologi Universitas Lampung, Kepala Seksi Perencanaan, Perlindungan dan Pengawetan BBTNBBS yang turut hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan bahwa badak sumatera selain berada di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan juga ada di Taman Nasional Way Kambas dan Taman Nasional Gunung Leuser di Provinsi Aceh. Keberadaan badak sumatera merupakan salah satu indikator bahwa ekosistem hutan masih baik karena badak sumatera sensitive terhadap keberadaan manusia dan perubahan hutan. Selama ini masih ada persepsi yang salah di masyarakat mengenai kegunaan cula badak sumatera. Masih ada masyarakat yang menganggap cula badak sumatera dapat digunakan sebagai obat kuat atau penangkal racun, padahal pada kenyataannya cula badak tidak memiliki khasiat apapun. Bahan penyusun cula badak adalah keratin, merupakan bahan yang sama penyusun rambut manusia. Jumlah badak sumatera yang tersisa saat ini kurang dari 100 individu berdasarkan Population Viability Analysis tahun 2015 dan tersebar dibeberapa kantung populasi di Indonesia. Populasi badak yang berada di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan berkisar antara Upaya konservasi badak sumatera harus dilakukan bersama antara pemerintah, NGO dan masyarakat internasional untuk mencegah badak sumatera dari kepunahan.&amp;nbsp; Saat ini Taman Nasional Bukit Barisan Selatan memiliki beberapa upaya dalam konservasi badak sumatera, antara lain: 1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Patroli rutin pengamanan kawasan TNBBS baik secara mandiri maupun bersama mitra TNBBS, 2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Survey/monitoring secara rutin, 3.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Menetapkan Intensive Protection Zone (areal pengamanan intensif) dan Intensive Monitoring Zone (areal pengamatan intensif) di TNBBS. 4.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pembuatan penangkaran badak dengan system koridor. 5.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Peyadartahuan kepada masyarakat di sekitar kawasan mengenai satwa di lindungi.</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Wed, 18 Oct 2017 01:43:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:10608</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10609/Ayo-beraksi-untuk-badak.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=10609</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=10609&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>Ayo beraksi untuk badak</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10609/Ayo-beraksi-untuk-badak.aspx</link> 
    <description>Hari badak sedunia yang diperingati setiap tanggal 22 September bertujuan untuk mengingatkan kepada kita bahwa saat ini terdapat 5 spesies badak di dunia yang perlu penanganan secara serius untuk mencegah dari kepunahan. Dua di antara spesies badak tersebut ada di Indonesia, yaitu badak sumatera dan badak jawa. Rhino Protection Unit Bukit Barisan Selatan (RPU BBS) sebagai mitra strategis Balai Besar Taman Nasonal Bukit Barisan Selatan (BBTNBBS) bekerjasama dengan Himpunan Mahasiswa Jurusan Biologi Universitas Lampung mengadakan perayaan hari badak sedunia pada tanggal 24 September 2017 di Tugu Adipura Bandar Lampung dengan acara antara lain long march, kuis dengan pertanyaan tentang konservasi badak dan pembagian gantungan kunci serta sticker badak. Tujuan diadakannya kegiatan tersebut adalah untuk mengedukasi dan mensosialisasikan kepada masyarakat Lampung mengenai pentingnya konservasi badak sumatera terutama yang ada di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.  Menjawab pertanyaan NATURA; media kampus mahasiswa jurusan Biologi Universitas Lampung, Kepala Seksi Perencanaan, Perlindungan dan Pengawetan BBTNBBS yang turut hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan bahwa badak sumatera selain berada di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan juga ada di Taman Nasional Way Kambas dan Taman Nasional Gunung Leuser di Provinsi Aceh. Keberadaan badak sumatera merupakan salah satu indikator bahwa ekosistem hutan masih baik karena badak sumatera sensitive terhadap keberadaan manusia dan perubahan hutan. Selama ini masih ada persepsi yang salah di masyarakat mengenai kegunaan cula badak sumatera. Masih ada masyarakat yang menganggap cula badak sumatera dapat digunakan sebagai obat kuat atau penangkal racun, padahal pada kenyataannya cula badak tidak memiliki khasiat apapun. Bahan penyusun cula badak adalah keratin, merupakan bahan yang sama penyusun rambut manusia. Jumlah badak sumatera yang tersisa saat ini kurang dari 100 individu berdasarkan Population Viability Analysis tahun 2015 dan tersebar dibeberapa kantung populasi di Indonesia. Populasi badak yang berada di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan berkisar antara Upaya konservasi badak sumatera harus dilakukan bersama antara pemerintah, NGO dan masyarakat internasional untuk mencegah badak sumatera dari kepunahan.&amp;nbsp; Saat ini Taman Nasional Bukit Barisan Selatan memiliki beberapa upaya dalam konservasi badak sumatera, antara lain: 1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Patroli rutin pengamanan kawasan TNBBS baik secara mandiri maupun bersama mitra TNBBS, 2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Survey/monitoring secara rutin, 3.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Menetapkan Intensive Protection Zone (areal pengamanan intensif) dan Intensive Monitoring Zone (areal pengamatan intensif) di TNBBS. 4.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pembuatan penangkaran badak dengan system koridor. 5.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Peyadartahuan kepada masyarakat di sekitar kawasan mengenai satwa di lindungi.</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Wed, 18 Oct 2017 01:43:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:10609</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10610/Ayo-beraksi-untuk-badak.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=10610</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=10610&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>Ayo beraksi untuk badak</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10610/Ayo-beraksi-untuk-badak.aspx</link> 
    <description>Hari badak sedunia yang diperingati setiap tanggal 22 September bertujuan untuk mengingatkan kepada kita bahwa saat ini terdapat 5 spesies badak di dunia yang perlu penanganan secara serius untuk mencegah dari kepunahan. Dua di antara spesies badak tersebut ada di Indonesia, yaitu badak sumatera dan badak jawa. Rhino Protection Unit Bukit Barisan Selatan (RPU BBS) sebagai mitra strategis Balai Besar Taman Nasonal Bukit Barisan Selatan (BBTNBBS) bekerjasama dengan Himpunan Mahasiswa Jurusan Biologi Universitas Lampung mengadakan perayaan hari badak sedunia pada tanggal 24 September 2017 di Tugu Adipura Bandar Lampung dengan acara antara lain long march, kuis dengan pertanyaan tentang konservasi badak dan pembagian gantungan kunci serta sticker badak. Tujuan diadakannya kegiatan tersebut adalah untuk mengedukasi dan mensosialisasikan kepada masyarakat Lampung mengenai pentingnya konservasi badak sumatera terutama yang ada di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.  Menjawab pertanyaan NATURA; media kampus mahasiswa jurusan Biologi Universitas Lampung, Kepala Seksi Perencanaan, Perlindungan dan Pengawetan BBTNBBS yang turut hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan bahwa badak sumatera selain berada di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan juga ada di Taman Nasional Way Kambas dan Taman Nasional Gunung Leuser di Provinsi Aceh. Keberadaan badak sumatera merupakan salah satu indikator bahwa ekosistem hutan masih baik karena badak sumatera sensitive terhadap keberadaan manusia dan perubahan hutan. Selama ini masih ada persepsi yang salah di masyarakat mengenai kegunaan cula badak sumatera. Masih ada masyarakat yang menganggap cula badak sumatera dapat digunakan sebagai obat kuat atau penangkal racun, padahal pada kenyataannya cula badak tidak memiliki khasiat apapun. Bahan penyusun cula badak adalah keratin, merupakan bahan yang sama penyusun rambut manusia. Jumlah badak sumatera yang tersisa saat ini kurang dari 100 individu berdasarkan Population Viability Analysis tahun 2015 dan tersebar dibeberapa kantung populasi di Indonesia. Populasi badak yang berada di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan berkisar antara Upaya konservasi badak sumatera harus dilakukan bersama antara pemerintah, NGO dan masyarakat internasional untuk mencegah badak sumatera dari kepunahan.&amp;nbsp; Saat ini Taman Nasional Bukit Barisan Selatan memiliki beberapa upaya dalam konservasi badak sumatera, antara lain: 1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Patroli rutin pengamanan kawasan TNBBS baik secara mandiri maupun bersama mitra TNBBS, 2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Survey/monitoring secara rutin, 3.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Menetapkan Intensive Protection Zone (areal pengamanan intensif) dan Intensive Monitoring Zone (areal pengamatan intensif) di TNBBS. 4.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pembuatan penangkaran badak dengan system koridor. 5.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Peyadartahuan kepada masyarakat di sekitar kawasan mengenai satwa di lindungi.</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Wed, 18 Oct 2017 01:43:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:10610</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10596/Kami-Bangga-Praktek-Kerja-Lapang-di-TNBBS.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=10596</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=10596&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>Kami Bangga Praktek Kerja Lapang di TNBBS</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10596/Kami-Bangga-Praktek-Kerja-Lapang-di-TNBBS.aspx</link> 
    <description>Kotaagung, 7 September 2017. Lima mahasiswa Kehutanan USU telah selesai melaksanakan Praktek Kerja Lapang (PKL) di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Kegiatan tersebut telah dilaksanakan mulai satu bulan lalu tepatnya tanggal 8 Agustus 2017. Kepala Bidang Teknis Konservasi Ismanto, S.Hut,MP menuturkan hari ini (7 September 2017) merupakan hari terakhir PKL. Selanjutnya mohon perkenan Bapak Kepala Balai Besar untuk memberikan pengarahan akhir. Demikian Ismanto mengawali seremonial penutupan PKLmahasiswaKehutanan USU. Selanjutnya mereka mendapat pengarahan akhir dari Kepala Balai Besar TNBBS Ir. Agus Wahyudiyono.  Dalam arahannya Kepala Balai Besar menyampaikan apresiasi serta meminta kesan dan pesan kepada kelima mahasiswa tersebut setelah praktek di TNBBS. &quot;Terimakasih sudah praktek di TNBBS semoga kegiatan di tempat kami menambah ilmu bagi kalian, ceritakan hal-hal yang baik kepada teman-teman di Medan dan melalui media sosial sebagai bagian promosi, untuk hal-hal yang kurang bagus sampaikan kepada kami untuk perbaikan, kami sangat terbuka untuk menerima masukan&quot; AgusWahyudiyonomengakhiriarahannya.  &amp;nbsp;  Kepala BBTNBBS memberikanarahankepadamahasiswa PKL dari USU. Foto :VivinAdiAnggoro/BBTNBBS &amp;nbsp; Selanjutnya Raja SP Aritonang mewakili kelompok PKL mengungkapkan rasa bangga bisa praktek di TNBBS. &quot;Kami bangga pak bisa praktek disini, kami menuju ke sini dari Medan pertama karena TNBBS warisan dunia, potensi alam luar biasa, dan kami juga mendapat pelayanan yang baik, mulai dari pertama di kantor balai besar sampai kami di lapangan, petugas yang dilapangan juga mendampingi kami&quot; ungkap Raja. Sehari sebelumnya (Rabu, 6 September 2017) Koordinator PEH TNBBS Tri Sugiharti, S.Hut dan kelima mahasiswa sempat menjelaskan kegiatan yang dilakukan saat PKL. Menurut Tri, mereka mengawali kegiatan praktek dengan melaksanakan analisis vegetasi di Zona Tradisional Resort Balai Kencana. Kegiatan ini untuk melengkapi data tagging pohon damar yang sedang dilaksanakan BBTNBBS dan WWF di zona tersebut.  Tri menambahkan &quot;Selama praktek disana, mereka didampingi petugas resort dan WWF yang sedang melaksanakan kegiatan tagging pohon damar. Selain mahasiswa USU kegiatan tagging juga melibatkan mahasiswa magang dari UNILA&quot;. Usai melaksanakan kegiatan di Resort Balai Kencana, mereka melanjutkan kegiatan pengumpulan bahan informasi wisata alam di Kubu Perahu, Resort Balik Bukit. Ketua kelompok PKL RahadianYudho menceritakan kegiatannya disana. &quot;Kami didampingi petugas setempat dan Unit Pengelola Wisata Kubu Perahu. Selain berkunjung ke air terjun Sepapa Kiri dan wisata desa Kubu Perahu, kami juga sempat mengumpulkan informasi dari wisatawan yang sedang menikmati keindahan alam Kubu Perahu&quot;. &amp;nbsp; Usai dari Resor Balik Bukit, mahasiswa semester 7 itu pun melanjutkan kegiatan di Resort Sukaraja Atas. Di resort tersebut, mereka menceritakan mendapatkan pengalaman menarik menangani konflik satwa liar dengan manusia. &quot;Saat kami praktek disana, beberapa ekor gajah keluar kawasan TNBBS ke lahan warga di PekonMargomulyo Kecamatan Semaka Kabupaten Tanggamus. Kami ikut petugas resort setempat bersama tim Wildlife Respons Unit WCS-IP serta warga menghalau gajah agar masuk kembali ke kawasan TNBBS, itu pengalaman yang sangat menarik bagi kami&quot; tutur Raja. Anggota praktek lainnya Heriyadi menambahkan &quot;kami juga mengumpulkan data sosek di PekonMargomulyo sekaligus sosialisasi ke warga untuk turut serta mencegah konflik satwa liar&quot;. Dan minum kopi Lampung gratis, canda Layla satu-satunya anggota perempuan dalam praktek tersebut. Didi yang juga ikut dalam kelompok PKL melengkapi cerita pengalaman praktek mereka di Resort SukarajaAtasdengan mengikuti SMART Patrol bersama petugas setempat dan WCS-IP.  Raja (kiri), Mahasiswa PKL mewawancaraianggotaFosumJasaWisataAlamJagadEndah Lestari, Suoh. Foto :VivinAdiAnggoro/BBTNBBS &amp;nbsp; Di minggu akhir praktek, Tri menjelaskan mahasiswa juga melaksanakan praktek kerja di Resort Suoh, disana mereka berdiskusi dengan forum jasa wisata alam Jagad Endah Lestari terkait pengelolaan wisata di Suoh bersama masyarakat. &quot;Meskipun mereka dari Medan dan disana ada Danau Toba, mereka tetap menyatakan danau-danau di Suoh bagus, ada keramikan dan satu lagi potensi baru, masyarakat menyebutnya nirwana keramikan&quot; Tri menutup penjelasannya sembari mengutarakan rasa kagum kelima mahasiswa Kehutanan USU PKL di TNBBS. &amp;nbsp; Penulis :VivinAdiAnggoro, SST (PenyuluhKehutanan BBTNBBS)</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Tue, 10 Oct 2017 01:50:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:10596</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10595/PELANTIKAN-ANGGOTA-SAKA-WANABAKTI-PESISIR-BARAT-BINAAN-BALAI-BESAR-TNBBS.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=10595</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=10595&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>PELANTIKAN ANGGOTA SAKA WANABAKTI PESISIR BARAT  BINAAN BALAI BESAR TNBBS</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10595/PELANTIKAN-ANGGOTA-SAKA-WANABAKTI-PESISIR-BARAT-BINAAN-BALAI-BESAR-TNBBS.aspx</link> 
    <description>BengkunatBelimbing, 10 September 2017. Sebanyak 33 orang Pramuka Penegak mengikuti kegiatan Perkemahan Pelantikan Anggota Baru Satuan Karya (Saka) Wanabakti Pesisir Barat di Bumi Perkemahan Resort Pemerihan, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Kegiatan ini merupakan pelantikan pertama anggota Saka Wanabakti di Kabupaten Pesisir Barat. Seluruh peserta berasal dari pangkalan Gugus Depan SMA N 1 Pesisir Selatan. Selama ini mereka aktif mengikuti latihan rutin Saka Wanabakti yang dibina oleh SPTN Wilayah II, BPTN Wilayah I Semaka, Balai Besar TNBBS.  Perkemahan dilaksanakan selama 3 hari pada tanggal 8-10 September 2017. Kegiatan tersebut dibuka oleh Ketua KwarranBengkunat Belimbing, Tasiwan. Dihadapan para peserta, Tasiwan menyampaikan bahwa sebagai generasi muda, anggota Pramuka Saka Wanabakti bisa menjadi pelopor pelestarian hutan dan lingkungan. &amp;ldquo;Melalui kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan, meningkatkan kesadaran dan kepedulian dan peranserta generasi muda dalam pelestarian TNBBS&amp;rdquo; amanat Tasiwan sekaligus membuka kegiatan perkemahan. Riyanto, S.Hut salah satu Instruktur Saka Wanabakti TNBBS menjelaskan &amp;ldquo;Kegiatan ini melibatkan 104 orang terdiri dari peserta sebanyak 33 orang yang aktif mengikuti kegiatan latihan, panitia sebanyak 35 orang dari TNBBS, mitra (WCS-IP, RPU YABI, Konsorsium UNILA PILI) dan DKS Semaka, serta 2 orang dari PuskesmasBengkunat Belimbing. Kesuksesan perkemahan ini juga tidak terlepas dari peranserta 24 orang dari kakak-kakak Pramuka Saka Wanabakti Lampung Barat, KwarranKotaagung Barat dan Gugus Depan SMA Bhakti MulyaSuoh. Selain itu juga dihadiri 10 anggota pramuka KwarranBengkunat Belimbing&amp;rdquo;.  Pesertamencatatmateripengenalanjenispohon yang disampaikanoleh Rahman dari WCS-IP (mengenakankaoshitam). Foto :VivinAdiAnggoro/BBTNBBS &amp;nbsp; Melalui kegiatan Perjusami (perkemahanJum&amp;aacute;t Sabtu Minggu, red.) peserta juga mendapat materi sebelum dikukuhkan menjadi anggota. Untuk kelas XI peserta mendapat materi danberbagipengalamantentang peran generasi muda dalam pelestarian TNBBS dari Kepala SPTN Wilayah II Bengkunat Jimmy Fonda, S.H, SunarniWidyastuti (Konsorsium UNILA PILI), Edi Edwar (Koperasi Pakor Makmur), danUjang Suryadi (KwarranKotaagung Barat). Materi lainnya yaitu tentang Revitalisasi GerakanPramuka oleh Supri (KwarranKotagung Barat, Krida Saka Wanabakti oleh Vivin Adi Anggoro, SST; perlindungan dan pelestarian Badak Sumatera oleh RPU YABI; pengenalan jenis satwa dan tumbuhan oleh WCS-IP, pengenalan alat navigasi dan praktek penggunaan GPS oleh WWF; serta melaksanakan praktek pengenalan jenis tumbuhan di sekitar bumi perkemahan. Sementara untuk peserta dari kelas XII, mereka mendapat materi tentang kegiatan penelitian di Stasiun Penelitian Way Canguk Resort Pemerihan.Mereka juga melaksanakan kegiatan penjelajahan ke Way Canguk sekaligus praktek pengenalan jenis tumbuhan dan pengamatan satwa selama penjelajahan. Selain materi terkait konservasi, pelestarian hutan dan kesakaan. Seluruh peserta juga dikenalkan packing perlengkapan pribadi untuk penjelajahan/patroli/monitoring satwa dan praktek penanaman di sekitar bumi perkemahan. &amp;ldquo;Setelah melalui berbagai proses uji mental dan watak kepribadian, serta kecakapan pemahaman tentang Saka Wanabakti, materi terkait konservasi dan pelestarian hutan, sebanyak 33 orang dilantik menjadi anggota Saka Wanabakti. Seluruhnya telah mendapat nama rimba yang berasal dari spesies tumbuhan obat di TNBBS&amp;rdquo; ungkap Riyanto.  Pengukuhan anggota dilaksanakan sekaligus dalam upacara penutupan perkemahan. Pada kesempatan tersebut, Jimmy Fonda selaku Pimpinan Saka Wanabakti Pesisir Barat menyematkan badge Saka Wanabakti kepada perwakilan putra dan putri, sementara Tasiwan bertindak sebagai Pembina Upacara. Dalam amanatnya, sebelum menutup perkemahanTasiwan menyampaikan rasa bangga, di KwarranBangkunat Belimbing telah ada Bumi Perkemahanbaru yang lokasinya di TNBBS dan lebih semangat untuk membina Pramuka.   Jimmy Fonda, SH (Kepala SPTN Wilayah II Bengkunat) selakuPimpinan Saka WanabaktiPesisirBarat&amp;nbsp; menyematkan badge kepadaperwakilananggota Saka Wanabakti yang dikukuhkan. Foto :VivinAdiAnggoro/BBTNBBS &amp;nbsp; &amp;ldquo;Kalian patut bersyukur telah dibina oleh Balai Besar TNBBS. Dengan adanya Saka Wanabakti kita berharap kegiatan Pramuka di sini semakin berkembang. Kami minta setelah ini terus aktif dan mengembangkan Saka Wanabakti bukan sekedar mengenakan bagde, tetapi lebih bertanggung jawab atas apa yang telah adik-adik kenakan&amp;rdquo;. Tasiwanmeyampaikan amanat sekaligus menutup perkemahan. Dalam kesempatan tersebut, Ka Kwarran juga menaman bibit pohon pulai di Bumi Perkemahan. SALAM PRAMUKA &amp;nbsp;(Penulis :VivinAdiAnggoro, SST (PenyuluhKehutanan BBTNBBS)</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Tue, 10 Oct 2017 01:46:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:10595</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10594/PENINGKATAN-KAPASITAS-MASYARAKAT-MITRA-POLHUT-MMP-BALAI-BESAR-TAMAN-NASIONAL-BUKIT-BARISAN-SELATAN.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=10594</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=10594&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>PENINGKATAN KAPASITAS MASYARAKAT MITRA POLHUT (MMP) BALAI BESAR TAMAN NASIONAL BUKIT BARISAN SELATAN</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10594/PENINGKATAN-KAPASITAS-MASYARAKAT-MITRA-POLHUT-MMP-BALAI-BESAR-TAMAN-NASIONAL-BUKIT-BARISAN-SELATAN.aspx</link> 
    <description>Taman Nasional Bukit Barisan Selatan merupakan kawasan pelestarian alam memiliki keanekaragaman jenis hayati (biodiversity) yang sangat tinggi baik flora maupun fauna dan keindahan alamnya.Kelestarian dari kawasan konservasi Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) sebagai situs warisan dunia (world heritage site) merupakan tanggung jawab seluruh pihak, bukan hanya pihak pengelola saja melainkan merupakan tangungjawab seluruh lapisan masyarakat.  Perlindungan dan pengamanan kawasan hutan di TNBBS dilakukan oleh Polisi Kehutanan. Akan tetapi keberadaan Polhut yang bertugas di TNBBS tidak sebanding kuantitasnya dengan luas areal hutan yang harus dilindungi, yaitu sebanyak 37 orang Polhut harus melindungi area TNBBS seluas 313.572,48 ha. Untuk mengatasi hal tersebut, dilakukan pelibatan masyarakat dalam hal perlindungan dan pengamanan kawasan TNBBS dalam patroli partisipatif, sosialisasi, dan penyebarluasan informasi mengenai arti penting kawasan TNBBS.Anggota masyarakat yang peduli terhadap kawasan TNBBS tersebut telah ditetapkan dalam organisasi Masyarakat Mitra Polisi Kehutanan (MMP) lingkup TNBBS sesuai Keputusan Kepala Balai Besar TNBBS Nomor : SK.06/T.7/TU/PEG/1/2017 tanggal 3 Januari 2017. Seiring dengan semakin kompleksnya tekanan terhadap kawasan hutan dan permasalahan perlindungan dan keamanan kawasan, maka dipandang perlu dilakukan peningkatan kapasitas Masyarakat Mitra Polhut. Kegiatan Pembinaan/ Peningkatan Kapasitas Masyarakat Mitra Polhut (MMP) dilaksanakan dalam rangka meningkatkan pengetahuan, wawasan dan keterampilan masyarakat yang tergabung dalam Masyarakat Mitra Polhut (MMP) Balai Besar TNBBS serta meningkatkan etos kerja personil MMP dalam mendukung perlindungan dan pengamanan kawasan TNBBS sebagai benteng terakhir kawasan konservasi.  Pembinaan MMP perlu dilakukan secara kontinyu dan berkala untuk terus memotivasi MMP dalam melaksanakan tugas dan menanamkan jiwa rimbawan/konservasi, sehingga memahami dasar pelaksanaan tugas. Di samping itu, penguatan kapasitas dan peningkatan keterampilan perlu terus dilakukan dengan penyampaian materi yang bervariasi dan up to date untuk menjadi bekal dalam pelaksanaan tugas MMP dilapangan. Kegiatan peningkatan kapasitas MMP dilaksanakan selama 3 (tiga) haripada tanggal 30 Juli &amp;ndash; 1 Agustus 2017 di Hotel Gisting, Kecamatan Gisting, Kabupaten Tanggamus. Peserta kegiatan Pembinaan MMP adalah anggota MMP di Balai Besar TNBBS yang berasal dari 17 (tujuh belas) resort, dimana masing-masing resort memiliki tenaga MMP sebanyak 5 (lima) orang pesonil. Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Ir. Timbul Batubara, M.Si. Kemudian acara dilanjutkan dengan penyampaian materi dan praktik dalam upaya peningkatan kapasitas MMP BBTNBBS.  Gambar 1. Pembukaan acara Pembinaan MMP oleh Kepala Balai Besar TNBBS. Materi yang disampaikan meliputi materi-materi dan praktik yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas sehari-hari MMP. Metode yang digunakan dalam menyampaikan materi dilakukan melalui pemaparan/ceramah, diskusi, dan praktik di areal lokasi pelaksanaan kegiatan.&amp;nbsp; Materi-materi yang disampaikan, yaitu : 1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; PengelolaanKawasanKonservasi di TN Bukit Barisan Selatan yang disampaikanolehKepalaBidangPengelolaan TN Wilayah I Semaka, (Ir. Maryanto) 2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; KebijakanPeraturanPerundang-undanganterkait MMP yang disampaikanolehKepalaBagian Tata Usaha (Wasja, S.H.) 3.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; KonservasiSumberDayaAlamdanEkosistem yang disampaikanolehKepalaBidangTeknisKonservasi TN (Ismanto, S.Hut, M.P) 4.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; KesamaptaandenganinstrukturKepalaBidangPengelolaan TN Wilayah II Liwa (LukitaAwangNistyantara, S.Hut, M.Si) 5.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; TeknikDasarBeladiridenganinstruktur yang berasaldari INKADO Provinsi Lampung 6.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Jurus Karate denganinstruktur yang berasaldari INKADO Provinsi Lampung 7.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; OlahragadenganinstrukturKepalaBidangPengelolaan TN Wilayah II Liwa (LukitaAwangNistyantara, S.Hut, M.Si) &amp;nbsp;  Gambar 2. Peserta MMP mengikuti praktik beladiri. Selama pelaksanaan kegiatan, peserta mengikuti acara dengan antusias, baik pada saat pelaksanaan praktik maupun penyampaian materi di dalam ruangan. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan selama kegiatan berlangsung, khususnya pada sesi diskusi dan tanya jawab. Pertanyaan yang diajukan meliputi solusi dari kendala dan permasalahan yang ditemukan ketika bertugas di lapangan. Serta peserta juga menyampaikan harapan-harapan ke depan mengenai pengelolaan kawasan dan keterlibatan MMP di dalamnya. Ketika pelaksanaan praktik, baik olahraga, kesamaptaan, maupun beladiri, para pesertasemangat berbaris dan mengikuti arahan instruktur dengan baik dan bersungguh-sungguh.  Gambar 3. Olahraga pagi yang dipimpin oleh instruktur Kepala Bidang Pengelolaan TN Wilayah II Liwa.  &amp;nbsp; Peserta diberikan personal use berupa kaos lapangan lengan panjang dan topi rimba serta seperangkat alat tulis. Peserta terlihat antusias ketika diberikan perlengkapan tersebut, karena selain berguna dalam pelaksanaan kegiatan MMP, personal use tersebut juga bermanfaat untuk mendukung pelaksanakan tugas sehari-hari di lapangan. Selain itu, peserta juga diberikan sertifikat dalam partisipasinya di kegiatan Pembinaan MMP, yaitu sebagai bentuk penghargaan telah mengikuti kegiatan Pembinaan MMP dengan baik. (Oleh : Intannia Ekanasty, S.Hut)</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Tue, 10 Oct 2017 00:40:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:10594</guid> 
    
</item>
<item>
    <comments>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10593/PELANTIKAN-ANGGOTA-SAKA-WANABAKTI-PESISIR-BARAT-BINAAN-BALAI-BESAR-TNBBS.aspx#Comments</comments> 
    <slash:comments>0</slash:comments> 
    <wfw:commentRss>https://programs.wcs.org/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/RssComments.aspx?TabID=14379&amp;ModuleID=29764&amp;ArticleID=10593</wfw:commentRss> 
    <trackback:ping>https://programs.wcs.org:443/DesktopModules/DnnForge%20-%20NewsArticles/Tracking/Trackback.aspx?ArticleID=10593&amp;PortalID=171&amp;TabID=14379</trackback:ping> 
    <title>PELANTIKAN ANGGOTA SAKA WANABAKTI PESISIR BARAT  BINAAN BALAI BESAR TNBBS</title> 
    <link>https://programs.wcs.org/btnbbs/Berita-Terbaru/articleType/ArticleView/articleId/10593/PELANTIKAN-ANGGOTA-SAKA-WANABAKTI-PESISIR-BARAT-BINAAN-BALAI-BESAR-TNBBS.aspx</link> 
    <description>Fotobersamausaipengukuhananggota Saka WanabaktiPesisir Barat. Foto :VivinAdiAnggoro/BBTNBBS &amp;nbsp; BengkunatBelimbing, 10 September 2017. Sebanyak 33 orang Pramuka Penegak mengikuti kegiatan Perkemahan Pelantikan Anggota Baru Satuan Karya (Saka) Wanabakti Pesisir Barat di Bumi Perkemahan Resort Pemerihan, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Kegiatan ini merupakan pelantikan pertama anggota Saka Wanabakti di Kabupaten Pesisir Barat. Seluruh peserta berasal dari pangkalan Gugus Depan SMA N 1 Pesisir Selatan. Selama ini mereka aktif mengikuti latihan rutin Saka Wanabakti yang dibina oleh SPTN Wilayah II, BPTN Wilayah I Semaka, Balai Besar TNBBS.  Perkemahan dilaksanakan selama 3 hari pada tanggal 8-10 September 2017. Kegiatan tersebut dibuka oleh Ketua KwarranBengkunat Belimbing, Tasiwan. Dihadapan para peserta, Tasiwan menyampaikan bahwa sebagai generasi muda, anggota Pramuka Saka Wanabakti bisa menjadi pelopor pelestarian hutan dan lingkungan. &amp;ldquo;Melalui kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan, meningkatkan kesadaran dan kepedulian dan peranserta generasi muda dalam pelestarian TNBBS&amp;rdquo; amanat Tasiwan sekaligus membuka kegiatan perkemahan. Riyanto, S.Hut salah satu Instruktur Saka Wanabakti TNBBS menjelaskan &amp;ldquo;Kegiatan ini melibatkan 104 orang terdiri dari peserta sebanyak 33 orang yang aktif mengikuti kegiatan latihan, panitia sebanyak 35 orang dari TNBBS, mitra (WCS-IP, RPU YABI, Konsorsium UNILA PILI) dan DKS Semaka, serta 2 orang dari PuskesmasBengkunat Belimbing. Kesuksesan perkemahan ini juga tidak terlepas dari peranserta 24 orang dari kakak-kakak Pramuka Saka Wanabakti Lampung Barat, KwarranKotaagung Barat dan Gugus Depan SMA Bhakti MulyaSuoh. Selain itu juga dihadiri 10 anggota pramuka KwarranBengkunat Belimbing&amp;rdquo;.  Pesertamencatatmateripengenalanjenispohon yang disampaikanoleh Rahman dari WCS-IP (mengenakankaoshitam). Foto :VivinAdiAnggoro/BBTNBBS &amp;nbsp; Melalui kegiatan Perjusami (perkemahanJum&amp;aacute;t Sabtu Minggu, red.) peserta juga mendapat materi sebelum dikukuhkan menjadi anggota. Untuk kelas XI peserta mendapat materi danberbagipengalamantentang peran generasi muda dalam pelestarian TNBBS dari Kepala SPTN Wilayah II Bengkunat Jimmy Fonda, S.H, SunarniWidyastuti (Konsorsium UNILA PILI), Edi Edwar (Koperasi Pakor Makmur), danUjang Suryadi (KwarranKotaagung Barat). Materi lainnya yaitu tentang Revitalisasi GerakanPramuka oleh Supri (KwarranKotagung Barat, Krida Saka Wanabakti oleh Vivin Adi Anggoro, SST; perlindungan dan pelestarian Badak Sumatera oleh RPU YABI; pengenalan jenis satwa dan tumbuhan oleh WCS-IP, pengenalan alat navigasi dan praktek penggunaan GPS oleh WWF; serta melaksanakan praktek pengenalan jenis tumbuhan di sekitar bumi perkemahan. Sementara untuk peserta dari kelas XII, mereka mendapat materi tentang kegiatan penelitian di Stasiun Penelitian Way Canguk Resort Pemerihan.Mereka juga melaksanakan kegiatan penjelajahan ke Way Canguk sekaligus praktek pengenalan jenis tumbuhan dan pengamatan satwa selama penjelajahan. Selain materi terkait konservasi, pelestarian hutan dan kesakaan. Seluruh peserta juga dikenalkan packing perlengkapan pribadi untuk penjelajahan/patroli/monitoring satwa dan praktek penanaman di sekitar bumi perkemahan. &amp;ldquo;Setelah melalui berbagai proses uji mental dan watak kepribadian, serta kecakapan pemahaman tentang Saka Wanabakti, materi terkait konservasi dan pelestarian hutan, sebanyak 33 orang dilantik menjadi anggota Saka Wanabakti. Seluruhnya telah mendapat nama rimba yang berasal dari spesies tumbuhan obat di TNBBS&amp;rdquo; ungkap Riyanto.  Pengukuhan anggota dilaksanakan sekaligus dalam upacara penutupan perkemahan. Pada kesempatan tersebut, Jimmy Fonda selaku Pimpinan Saka Wanabakti Pesisir Barat menyematkan badge Saka Wanabakti kepada perwakilan putra dan putri, sementara Tasiwan bertindak sebagai Pembina Upacara. Dalam amanatnya, sebelum menutup perkemahanTasiwan menyampaikan rasa bangga, di KwarranBangkunat Belimbing telah ada Bumi Perkemahanbaru yang lokasinya di TNBBS dan lebih semangat untuk membina Pramuka.   Jimmy Fonda, SH (Kepala SPTN Wilayah II Bengkunat) selakuPimpinan Saka WanabaktiPesisirBarat&amp;nbsp; menyematkan badge kepadaperwakilananggota Saka Wanabakti yang dikukuhkan. Foto :VivinAdiAnggoro/BBTNBBS &amp;nbsp; &amp;ldquo;Kalian patut bersyukur telah dibina oleh Balai Besar TNBBS. Dengan adanya Saka Wanabakti kita berharap kegiatan Pramuka di sini semakin berkembang. Kami minta setelah ini terus aktif dan mengembangkan Saka Wanabakti bukan sekedar mengenakan bagde, tetapi lebih bertanggung jawab atas apa yang telah adik-adik kenakan&amp;rdquo;. Tasiwanmeyampaikan amanat sekaligus menutup perkemahan. Dalam kesempatan tersebut, Ka Kwarran juga menaman bibit pohon pulai di Bumi Perkemahan. SALAM PRAMUKA &amp;nbsp; Penulis :VivinAdiAnggoro, SST (PenyuluhKehutanan BBTNBBS)</description> 
    <dc:creator>tnbbsadmin</dc:creator> 
    <pubDate>Sat, 07 Oct 2017 10:44:00 GMT</pubDate> 
    <guid isPermaLink="false">f1397696-738c-4295-afcd-943feb885714:10593</guid> 
    
</item>

    </channel>
</rss>